Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Anak-anak Keluarga Pemulung Ikan Asin Jakarta Utara Siap Tampil di Gerakan Belarasa, Usung Semangat Subsidiaritas

📅 Jumat, 25 Apr 2025, 06:10 WIB | Oleh:
Anak-anak Keluarga Pemulung Ikan Asin Jakarta Utara Siap Tampil di Gerakan Belarasa, Usung Semangat Subsidiaritas Doc: Dok. Istimewa
Ket. Suasana PAUD dampingan LDD KAD di Jakarta Utara

JAKARTA — Di balik gemerlap ibu kota, tepatnya di kawasan pesisir Jakarta Utara, tumbuh semangat pemberdayaan yang senyap namun menyala. Anak-anak dari keluarga buruh pengupas kerang, nelayan, hingga pemulung ikan asin, kini mendapat ruang belajar yang layak berkat kerja pendampingan dari Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pendekatannya tak berbasis belas kasihan, tapi semangat subsidiaritas—keyakinan bahwa kekuatan perubahan ada dalam diri komunitas itu sendiri.

Semangat ini akan dipresentasikan kepada publik pada Sabtu, 3 Mei 2025, dalam peluncuran Gerakan Belarasa di Museum Nasional Jakarta. Acara ini memberi panggung bagi mereka yang selama ini tak terdengar: anak-anak dari keluarga marjinal, komunitas pesisir, dan penyintas disabilitas.

Di ruang expo Gerakan Belarasa, pengunjung akan menemukan booth Pelayanan Anak dari LDD. Di sana, ditampilkan miniatur ruang belajar PAUD, dokumentasi visual before-after pendampingan, serta karya anak-anak. Akan ada pula mini fashion show bertema cita-cita, di mana anak-anak PAUD mengenakan kostum profesi seperti dokter, guru, dan pilot—simbol harapan yang lahir dari tepian kota.

Menurut Dita Anggraini, staf Pelayanan Anak LDD KAJ, program ini kini menjangkau 12 wilayah, dengan 8 PAUD dan 6 Kelompok Belajar Anak (KBA) aktif di pesisir utara Jakarta. “Mayoritas pendamping adalah ibu rumah tangga lulusan SD atau SMP. Tapi setelah dilatih, mereka menjadi guru-guru tangguh. Bahkan ada yang termotivasi ikut sekolah paket hingga kuliah,” ujarnya.

Dita menekankan bahwa program ini tidak menjadikan masyarakat sebagai penerima pasif. “Kami tidak pernah menyebut PAUD itu milik LDD. Kami katakan: ini milik masyarakat. Maka masyarakat juga yang mengelola bersama,” ujarnya.

Cerita tentang bayi prematur dari Morang menjadi salah satu contoh kekuatan gotong royong. Anak dari pasangan remaja—ayah dan ibu sama-sama berusia 16 tahun—lahir dalam rumah tanpa pintu dan kamar mandi, dan divonis berisiko lumpuh dan buta. Namun, berkat kegigihan guru PAUD bernama Bu Santi dan solidaritas warga sekitar, anak itu berhasil diselamatkan. “Bu Santi tidur di rumah sakit, warga cari ambulans jam 2 pagi. Semua bergerak,” kata Dita.

Ketika terjadi kebakaran besar di Rawa Elok dua hari sebelum Lebaran, guru-guru PAUD dari wilayah lain membuka dapur umum dan memilih Lebaran bersama para korban. “Solidaritas mereka luar biasa. Kami hanya menjadi jembatan,” tambahnya.

Tantangan yang dihadapi anak-anak ini tidak hanya soal pendidikan dan gizi, tetapi juga legalitas. Banyak yang tidak memiliki akta lahir, KTP, atau KK, yang membuat mereka sulit melanjutkan pendidikan formal. LDD juga membantu pendampingan administrasi, serta mendorong pembentukan koperasi kecil dan kelompok menabung.

“Banyak anak yang lahir dari orang tua usia sangat muda, tanpa pernikahan resmi, dan tidak memiliki dokumen apapun. Ini adalah kenyataan yang harus dilihat langsung,” tutur Dita.

Gerakan Belarasa tak hanya ingin membantu, tapi membangun kesadaran baru: bahwa mereka yang di pinggiran memiliki daya untuk maju, jika diberi ruang dan didampingi.

“Harapannya, pengunjung yang datang ke Museum Nasional bukan sekadar menonton, tetapi tergerak untuk menjadi bagian. Menjadi relawan, donatur, atau sekadar pembelajar tentang arti pemberdayaan,” ujar Dita.

Gerakan Belarasa adalah tentang bersama, bukan sekadar memberi. Ini tentang mendengar suara-suara kecil yang selama ini tertutup oleh hiruk pikuk kota—dan menyadari bahwa belarasa bukan kelembutan yang pasif, tapi keberpihakan yang aktif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.