Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Akhir dari Tiang Monorel Kuningan Setelah 2 Dekade, Warga Harap Estetika Kota Pulih Tanpa Tambah Macet

📅 Selasa, 21 Okt 2025, 19:00 WIB | Oleh:
Akhir dari Tiang Monorel Kuningan Setelah 2 Dekade, Warga Harap Estetika Kota Pulih Tanpa Tambah Macet Doc: ANTARA
Ket. Pengendara melintas di dekat tiang bekas proyek monorel Jakarta di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memulai pembongkaran puluhan tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Januari 2026. Proyek yang sempat menjadi simbol kegagalan ambisi transportasi Jakarta itu kini dianggap sebagai pengganggu estetika kota sekaligus penyebab kemacetan.

Keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menuntaskan persoalan ini disambut sebagai langkah penting memperbaiki wajah ibu kota. Namun, di sisi lain, warga berharap proses pembongkaran tidak menimbulkan dampak sosial baru berupa kemacetan parah di jalur utama kawasan bisnis tersebut.

Selama dua dekade, tiang-tiang beton monorel itu menjadi pemandangan kontras di tengah hiruk-pikuk perkantoran Kuningan. Struktur berdiameter besar di tengah jalan utama itu bukan hanya merusak keindahan kota, tetapi juga membatasi ruang lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki.

Banyak warga menilai kehadiran tiang monorel telah lama menjadi simbol stagnasi pembangunan perkotaan. Mereka menilai proyek mangkrak tersebut memperlihatkan betapa mahalnya harga dari kegagalan perencanaan publik di masa lalu. Dalam berbagai kesempatan, masyarakat sekitar mengeluhkan efeknya terhadap kenyamanan dan keamanan jalan.

Segelintir masyarakat khawatir bahwa proses revitalisasi justru berpotensi menambah kemacetan jangka pendek. Jalan HR Rasuna Said dikenal sebagai salah satu koridor paling sibuk yang menghubungkan area Setiabudi, Kuningan, hingga Menteng. Aktivitas pembongkaran besar di tengah lalu lintas padat tentu membutuhkan pengaturan lalu lintas yang matang agar tidak menimbulkan kekacauan baru.

Dari sisi sosial, keberadaan tiang monorel mangkrak juga dinilai telah menurunkan kualitas ruang publik. Banyak area di sekitar tiang digunakan untuk parkir liar, tempat sampah sementara, hingga titik rawan kecelakaan. Dengan dibongkarnya tiang-tiang tersebut, masyarakat berharap ruang jalan kembali bisa berfungsi optimal sebagai ruang interaksi publik yang aman dan nyaman.

Pemprov DKI berjanji pembongkaran akan disertai penataan ulang kawasan Kuningan. Lahan bekas jalur monorel akan diubah menjadi trotoar lebar dan ruang terbuka hijau, terinspirasi dari koridor pejalan kaki di kawasan MH Thamrin–Jenderal Sudirman.

Langkah ini diharapkan tak sekadar memperbaiki tampilan kota, tetapi juga memulihkan kepercayaan publik terhadap tata kelola pembangunan Jakarta. Dengan memperluas ruang pejalan kaki dan memperbaiki estetika kawasan, proyek ini diharapkan mampu menciptakan ruang sosial baru bagi warga urban untuk berinteraksi.

Gubernur Pramono Anung menegaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan KPK dan Kejaksaan Tinggi DKI untuk memastikan pembongkaran berjalan sesuai prosedur hukum.

“Mudah-mudahan Januari [2026] segera bisa kita mulai dan tahun 2026 bisa selesai,” katanya dalam rapat paripurna DPRD DKI Jakarta.

Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan menambahkan, pembongkaran fisik tiang akan dimulai awal Januari 2026 dan ditargetkan rampung dalam empat bulan. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan penataan jalan dan trotoar yang akan berlangsung hingga 2027.

Bagi sebagian warga, pembongkaran ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan momentum menghapus jejak masa lalu yang gagal dan menggantinya dengan ruang kota yang lebih manusiawi. Banyak yang berharap, hasil akhir dari proyek ini bukan hanya jalan yang lebih lapang, tetapi juga lingkungan yang lebih indah dan ramah bagi semua pengguna jalan.

Dengan rencana besar tersebut, kawasan Kuningan diharapkan akan berubah, dari simbol kegagalan menjadi bukti nyata transformasi perkotaan Jakarta. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana Pemprov DKI mengelola dampak sosial dan mobilitas warga selama proses pembongkaran berlangsung.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

41 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.