Student Fair di Purwokerto Tampilkan Inovasi Siswa Peduli Lingkungan
Sabtu, 07 Nov 2026, 13:01 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Sumarwoto
PURWOKERTO -- Kegiatan Student Fair 2.0 2026 di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menampilkan berbagai inovasi siswa yang mengangkat persoalan lingkungan dan menawarkan solusi terhadap permasalahan masyarakat.
Kepala Seksi Sekolah Menengah Atas (SMA) Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah X Jawa Tengah Dwi Sucipto di Purwokerto, Sabtu, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan perkembangan kreativitas dan inovasi siswa yang semakin beragam dari tahun ke tahun.
"Kami sudah tiga tahun mengikuti kegiatan ini dan setiap tahunnya selalu ada peningkatan. Keragaman inovasi anak-anak sangat luar biasa, baik karya seni, karya produksi, maupun inovasi lainnya," katanya saat meninjau kegiatan yang digelar di gedung SMP-SMA 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua Secondary School).
Menurut dia, berbagai karya yang ditampilkan menunjukkan kemampuan siswa mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan, salah satunya mesin pemilah sampah yang dipamerkan pada kegiatan tahun ini.
Ia mengharapkan kegiatan tersebut menjadi inspirasi bagi sekolah lain di wilayah Cabdindik Wilayah X yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami berharap tahun depan siswa dari Kabupaten Cilacap dan Purbalingga juga bisa ikut hadir sehingga anak-anak dapat belajar dari kegiatan ini dan menerapkannya di sekolah masing-masing," kata Dwi Sucipto..
Sementara itu, Pengelola Layanan Operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas Silvia Melinda mengapresiasi inovasi siswa karena dapat mendorong generasi muda semakin peduli terhadap lingkungan.
Menurut dia, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.
“Perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memilah sampah dari sumbernya dan mengurangi pencemaran air,” katanya.
Perwakilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah Rizki Riyansyah mengatakan sejumlah karya siswa berpotensi menjawab persoalan masyarakat, salah satunya mesin pengering untuk membantu petani dan nelayan mengolah hasil produksi.
Ia menilai inovasi tersebut relevan dengan kondisi perubahan iklim yang menyebabkan pola musim semakin sulit diprediksi sehingga proses pengeringan hasil pertanian dan perikanan dapat terganggu.
"Beberapa karya cukup aplikatif dan adaptif, tetapi penerapannya membutuhkan kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Masyarakat juga perlu diajak berdiskusi agar inovasi sesuai dengan kebutuhan mereka," katanya.
Kepala Sekolah Puhua Secondary Arinta Dewi mengatakan karya-karya tersebut merupakan hasil pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang dipadukan dengan konsep kewirausahaan.
“Siswa mengembangkan prototipe melalui pendekatan problem based learning dengan mengintegrasikan sejumlah mata pelajaran untuk menghasilkan solusi atas persoalan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Ia mengatakan persiapan proyek dimulai sejak Agustus 2026 melalui pembentukan kelompok dan penyusunan proposal.
Dari 15 kelompok siswa kelas XI, delapan kelompok terpilih memperoleh pembiayaan penuh dari sekolah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!