Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian
Senin, 02 Nov 2026, 19:47 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Vintage Markets
JAKARTA – Kepercayaan konsumen terhadap bisnis jual beli emas Jual Emas Indonesia (JEI) tengah menjadi sorotan setelah sejumlah pelanggan mengungkapkan pengalaman transaksi yang dinilai janggal di media sosial. Keluhan tersebut berkaitan dengan hasil pemeriksaan kadar kemurnian emas dan penawaran harga jual kembali yang dinilai jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan konsumen.
Polemik yang mencuat pada Oktober 2026 itu ramai diperbincangkan setelah sejumlah pengguna platform Threads membagikan pengalaman mereka ketika menjual perhiasan di gerai JEI. Perbedaan hasil pengujian kadar emas antara JEI dan toko perhiasan lain menjadi salah satu persoalan yang paling banyak dipertanyakan warganet.
JEI merupakan bisnis jual beli emas yang dikenal melalui keterlibatan figur pemengaruh Juan Sensen dan Evelyn Chrestella atau yang akrab disapa Iben. Keduanya dikenal luas melalui kanal media sosial yang memiliki banyak pengikut.
Keluhan Konsumen dan Perbandingan Pengujian
Salah satu keluhan yang menarik perhatian publik disampaikan oleh pengguna Threads dengan akun @ghazalisasq. Dalam unggahannya, ia menceritakan pengalaman mendatangi salah satu gerai JEI di Tangerang Selatan untuk menjual emas yang menurut dokumen pembeliannya berkadar 24 karat.
Namun, hasil pemeriksaan di gerai tersebut justru menyebut emas miliknya memiliki kadar 16 karat. Merasa hasil penaksiran tersebut tidak sesuai dengan sertifikat yang dimiliki, konsumen itu kemudian membawa emas yang sama ke toko lain untuk mendapatkan pemeriksaan pembanding.
Hasilnya, toko kedua menyatakan emas tersebut tetap berkadar 24 karat. Perbedaan hasil pemeriksaan itu kemudian diunggah ke media sosial dan memicu pertanyaan publik mengenai prosedur pengujian kadar emas yang diterapkan oleh JEI.
Keluhan serupa juga disampaikan pengguna Threads lainnya, @diarmaryan, yang mengaku mengalami penurunan penawaran harga cukup besar ketika menjual perhiasan di gerai JEI. Perhiasan yang sebelumnya dibeli dengan harga lebih tinggi ditawarkan jauh di bawah perkiraan, sehingga memicu tanda tanya terkait dasar perhitungan harga jual kembali (buyback) yang digunakan.
Sejumlah unggahan tersebut kemudian memancing tanggapan dari pengguna media sosial lain. Beberapa warganet mengaku pernah mengalami persoalan serupa, meskipun setiap pengalaman yang disampaikan masih memerlukan pemeriksaan dan pembuktian lebih lanjut.
Pengujian XRF Ikut Dipertanyakan
Selain persoalan perbedaan penaksiran kadar emas, perhatian publik juga tertuju pada penggunaan teknologi X-ray Fluorescence (XRF) dalam proses pemeriksaan kemurnian logam mulia.
XRF merupakan teknologi analisis yang memanfaatkan sinar-X untuk mengidentifikasi unsur-unsur penyusun suatu material. Dalam industri logam mulia, perangkat ini digunakan untuk membantu mengetahui komposisi unsur dan memperkirakan kadar emas pada sampel yang diperiksa. Penggunaan XRF menjadi krusial karena kadar emas berpengaruh langsung terhadap nilai ekonominya.
Namun, hasil pemeriksaan menggunakan perangkat tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kondisi permukaan sampel, metode pengukuran, titik pengujian, serta kalibrasi alat. Dalam polemik JEI, pengguna akun Threads @tiannoviant—yang mengaku memiliki pengalaman selama lima tahun mengoperasikan perangkat XRF—turut memberikan tanggapan. Ia menyebut pengaturan kurva kalibrasi dapat memengaruhi hasil pembacaan alat.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi di kalangan warganet mengenai kemungkinan ketidaktepatan hasil pengujian. Kendati demikian, tudingan manipulasi perangkat XRF dalam kasus ini belum terbukti secara ilmiah dan belum didukung oleh audit atau pemeriksaan independen.
Untuk memastikan keakuratan hasil pengujian, diperlukan pemeriksaan teknis terhadap perangkat, prosedur kalibrasi, serta metode pengambilan sampel yang digunakan. Perbandingan hasil dari beberapa laboratorium atau pengujian independen juga dapat membantu menjelaskan penyebab perbedaan penilaian kadar emas tersebut.
Transparansi sebagai Kunci Bisnis Jual Beli Emas
Perseroan atau bisnis yang mencuat di JEI memperlihatkan pentingnya transparansi dalam perdagangan emas. Berbeda dengan sejumlah produk ritel lainnya, nilai sebuah perhiasan sangat bergantung pada kandungan logam mulia, berat, kadar, serta fluktuasi harga pasar.
Dalam transaksi jual kembali, konsumen juga perlu memahami bahwa harga pembelian awal dan harga penjualan kembali tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh komponen biaya pembuatan, kebijakan toko, hingga potongan susut. Namun, selisih harga yang signifikan tetap perlu disertai penjelasan transparan yang dapat dipahami konsumen, terutama jika penawaran harga didasarkan pada hasil pengujian yang berbeda dari dokumen pembelian.
Dalam situasi ini, konsumen berhak meminta penjelasan mengenai metode pengujian, hasil pembacaan perangkat, serta dasar perhitungan harga yang ditawarkan. Konsumen juga dianjurkan melakukan pemeriksaan pembanding di tempat lain apabila meragukan hasil penaksiran, serta menyimpan nota pembelian dan sertifikat resmi sebagai langkah antisipasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!