Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kadin Tantang Perajin Jepara Bongkar Pakem Desain Ukir

2 Senin, 02 Nov 2026, 21:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kadin Tantang Perajin Jepara Bongkar Pakem Desain Ukir Kadin Tantang Perajin Jepara Bongkar Pakem Desain Ukir Doc: ANTARA/HO. Humas Pemkab Jepara.
Ket. Kerajinan mebel ukir Kabupaten jepara, Jawa Tengah.

JEPARA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jepara meminta pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, untuk terus berinovasi dalam mengembangkan desain seni ukir dan produk furnitur guna menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

"Pemberdayaan industri mebel ukir tidak cukup hanya mengandalkan potensi yang sudah ada, tetapi juga perlu didukung inovasi dan penciptaan nilai tambah agar mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Jepara sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto di Jepara, Senin (2/11).

Menurut dia, penguatan seni ukir dan industri mebel Jepara perlu didukung inovasi desain, pengembangan material, serta kolaborasi lintas sektor. Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah daerah juga diperlukan untuk memperkuat identitas Jepara sebagai pusat seni ukir dan industri mebel.

Sementara itu, CEO Agra Guratama Raya Group Muhammad Jamhari mengajak berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara melalui eksplorasi material dan pengembangan penerapan karya.

Melalui materi bertajuk "Menolak Punah", ia menjelaskan bahwa seni ukir tidak harus terbatas pada media kayu, tetapi juga berpotensi dikembangkan menggunakan material lain, seperti batu dan logam.

Melalui inovasi dan penciptaan karya nyata, seni ukir diharapkan dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Perspektif pengembangan desain disampaikan Pembina Yayasan REKANUSA sekaligus akademisi Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara Dr. Drs. H. Eddy Supriyatna Marizar melalui materi bertajuk "Mengolah Getar-Getar Jiwa".

Ia menjelaskan bahwa desain menjadi penghubung antara nilai artistik seni ukir dan kebutuhan industri furnitur. Seni ukir kayu merupakan bagian dari seni kriya yang memiliki nilai estetika sekaligus identitas budaya. Sementara itu, furnitur merupakan produk industri yang berorientasi pada kebutuhan konsumen dan nilai ekonomi.

Oleh karena itu, keduanya perlu dipadukan melalui pendekatan desain agar menghasilkan produk inovatif yang tetap mempertahankan karakter lokal, sekaligus mampu memenuhi preferensi pasar internasional.

"Pengembangan desain furnitur ukir kayu untuk pasar global tidak cukup hanya mengandalkan kajian ekonomi, tetapi perlu didukung pendekatan sosiologi seni, semiotika desain, serta POPI-TER (Pola Pikir Terbalik)," katanya menjelaskan.

Ia menambahkan, proses perancangan riset dan inovasi dapat dimulai dengan menetapkan luaran atau wujud produk yang ingin dihasilkan. Selanjutnya, perancang perlu merumuskan temuan, kebaruan (novelty), tujuan, permasalahan, serta metode untuk mewujudkannya melalui konsep Logika Rasa.

Gagasan penguatan seni ukir dan industri mebel tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional REKANUSA 2026 yang digelar Yayasan REKANUSA di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara pada 29 Oktober 2026.

Pendiri Yayasan REKANUSA (Rainha Eka Nusantara) Eka Fitri Suryani mengatakan seminar tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi nyata dan berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, generasi muda, dan masyarakat.

"Sebagai pendiri Yayasan REKANUSA, saya berharap Seminar Nasional REKANUSA 2026 menjadi langkah nyata untuk membangun kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan budaya sekaligus menumbuhkan masa depan," ungkap Eka Fitri.

Ia menjelaskan yayasannya hadir untuk merawat identitas bangsa sekaligus membuka ruang bagi perkembangan zaman melalui bidang pendidikan, sosial, seni, budaya, dan pariwisata.

Menurut dia, kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, budaya dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan peluang, inovasi, dan daya saing.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Dua Tahun Lalu Alvin Tedjo,...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada   

Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada  

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.