Kesehatan Mata Berperan Penting dalam Meningkatkan Performa Pesepak Bola
Senin, 02 Nov 2026, 19:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: JEC
JAKARTA – Kemampuan pesepak bola membaca pergerakan lawan, mengamati posisi rekan setim, hingga menentukan arah operan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknik dan kondisi fisik. Fungsi penglihatan juga memiliki peran penting dalam mendukung pengambilan keputusan dan koordinasi gerak pemain selama pertandingan.
Pentingnya kesehatan mata dalam pembinaan atlet sepak bola menjadi perhatian JEC Eye Hospitals and Clinics melalui seminar bertajuk “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda”. Kegiatan yang berlangsung pada 28 Oktober 2026 di Auditorium Istiantoro, RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta, tersebut mempertemukan praktisi kesehatan, pelatih, pesepak bola, pengurus sekolah sepak bola (SSB), dan pegiat olahraga.
Seminar ini membahas keterkaitan antara fungsi penglihatan, koordinasi gerak, dan kemampuan pemain dalam membaca permainan. Diskusi juga disiarkan secara daring untuk menjangkau kalangan sepak bola yang lebih luas.
Sejumlah pembicara hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, dokter spesialis mata sekaligus Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics; Indra Sjafri, tokoh sepak bola nasional; serta dr. Tommy Desky, dokter sekaligus analis sepak bola. Diskusi dipandu oleh dr. Agung Santoso, AIFO-K.
Selain diskusi dan tanya jawab, peserta juga mendapatkan kesempatan menjalani pemeriksaan mata secara langsung, yang dilengkapi dengan kuis dan pembagian hadiah menarik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dominansi Mata dan Koordinasi Gerak Pemain
Prof. Tjahjono mengatakan, kemampuan penglihatan yang optimal diperlukan pemain untuk mengamati pergerakan bola, mengenali situasi lapangan, serta memperhitungkan respons yang tepat dalam waktu singkat. Menurut dia, gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan pemain menangkap informasi visual, terutama ketika harus mengikuti pergerakan bola atau menghadapi perubahan kondisi lapangan dan cuaca.
"Dua mata pemain itu harus berfungsi optimal dan sangat jelas, untuk bisa dengan maksimal mengamati, lalu memperhitungkan ketepatan respons kepada bola yang hendak ia eksekusi selanjutnya," ujarnya. Ia menilai pemeriksaan mata perlu menjadi bagian dari perhatian dalam pembinaan atlet, mulai dari kelompok usia dini hingga pemain profesional. Deteksi dini diperlukan agar gangguan penglihatan dapat dikenali dan memperoleh penanganan sesuai kondisi masing-masing pemain.
Salah satu materi yang dibahas dalam seminar tersebut adalah crossed laterality atau dominansi silang. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika mata dominan seseorang berada pada sisi yang berlawanan dengan tangan atau kaki dominannya. Sebagai contoh, seorang pemain memiliki mata kiri dominan, tetapi menggunakan kaki kanan sebagai kaki dominan. Hubungan antara dominansi mata, tangan, dan kaki ini menjadi salah satu aspek yang dapat dipetakan untuk memahami karakteristik koordinasi penglihatan dan gerak pemain.
Pembahasan tersebut mengacu antara lain pada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology pada 2018. Penelitian terhadap 72 pemain elite dari klub Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir menemukan prevalensi crossed laterality sebesar 53 persen pada kelompok pemain elite, sedangkan pada kelompok amatir angkanya mencapai 33 persen.
Prof. Tjahjono menjelaskan, pemetaan dominansi mata dan anggota tubuh dapat memberikan informasi tambahan bagi pelatih dalam menyusun program latihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu.
"Memahami crossed laterality membantu kita mengenali hubungan antara dominansi mata dan koordinasi gerak setiap pemain. Informasi ini membantu melengkapi penilaian tentang cara pemain merespons rangsangan dari arah berbeda dan melakukan perubahan arah tubuh," katanya melalui siaran pers.
Meski demikian, dominansi mata bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan visual pesepak bola. Penilaian juga perlu mencakup ketajaman melihat objek diam (static visual acuity), kemampuan mengenali detail objek bergerak (dynamic visual acuity), serta kestabilan pandangan ketika kepala dan tubuh bergerak. Kemampuan melihat kedalaman, mengenali objek di sisi pandangan, dan membedakan kontras juga diperlukan dalam situasi pertandingan, salah satunya didukung oleh vestibulo-ocular reflex—refleks yang membantu mata mempertahankan kestabilan pandangan ketika kepala bergerak.
Kemampuan Scanning Membantu Membaca Permainan
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan tracking dan scanning. Tracking merupakan kemampuan mengikuti pergerakan objek termasuk bola, sedangkan scanning adalah kebiasaan mengamati lingkungan sekitar untuk memperoleh informasi mengenai posisi rekan setim, lawan, dan ruang yang tersedia.
Dalam sepak bola modern, kemampuan scanning menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Pemain dituntut mengumpulkan informasi sebelum menerima bola agar dapat menentukan tindakan berikutnya, baik mengoper, menggiring, maupun bergerak mencari ruang.
dr. Tommy Desky mengatakan, kemampuan tersebut berkaitan erat dengan bagaimana pemain memanfaatkan informasi visual untuk mengambil keputusan di tengah tekanan pertandingan.
"Pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum bola datang: posisi rekan, pergerakan lawan, dan ruang yang dapat dimanfaatkan. Penglihatan yang baik membantu pemain menangkap informasi tersebut dengan jelas untuk kemudian diolah menjadi keputusan," ujarnya. Ia menambahkan, kebiasaan mengamati situasi lapangan perlu dibangun sejak pemain berada di sekolah sepak bola menggunakan sarana sederhana seperti cone atau penanda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!