Tiga Juta Kematian Terkait Panas Jadi Alarm Darurat Kesehatan Global
Kamis, 29 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Koran Jakarta/M Fachri
Paris - Perubahan iklim harus ditetapkan sebagai "darurat kesehatan global" agar menjadi dasar kebijakan pemerintah, menyusul sekitar tiga juta kematian terkait panas sepanjang 2016 hingga 2023, menurut laporan jurnal medis The Lancet yang dirilis pada Rabu (28/10).
Laporan edisi ke-10 yang diterbitkan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP31 pada November itu melibatkan 146 peneliti dari 30 negara untuk menilai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan penduduk dunia.
Laporan tersebut mencatat rekor 710.000 kematian terkait panas pada 2023. Lebih dari 70 persen kematian itu dikaitkan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Dilansir dari AFP, Direktur Eksekutif proyek penelitian kesehatan dan iklim Lancet Countdown, Marina Romanello, mengatakan sekitar tiga juta kematian terkait panas terjadi secara global selama delapan tahun sejak Perjanjian Paris pada 2015.
"Jumlah itu kira-kira setara dengan seluruh populasi Wales yang musnah dalam kurun waktu delapan tahun akibat gelombang panas," katanya dalam konferensi pers.
"Dan 68 persen dari kematian tersebut secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim."
Perjanjian Paris merupakan kesepakatan internasional yang mengikat secara hukum untuk membatasi pemanasan global jauh di bawah 2 derajat Celsius dan mengupayakan agar kenaikan suhu tetap pada 1,5 derajat Celsius dibandingkan dengan tingkat praindustri.
Romanello mengatakan penetapan darurat kesehatan global akibat perubahan iklim harus mendorong pendekatan terpadu, bukan sekadar respons terhadap setiap bencana yang terjadi.
Sebaliknya, dia menyerukan respons jangka panjang yang terkoordinasi untuk memperkuat ketahanan, meningkatkan kapasitas, dan membantu negara-negara mencegah keadaan darurat serupa pada masa mendatang.
Profesor Ollie Jay dari Universitas Sydney menjelaskan bahwa para peneliti memperkirakan proporsi kematian akibat pemanasan global dengan membandingkan jumlah kematian terkait panas yang tercatat di berbagai negara dengan perkiraan jumlah kematian jika perubahan iklim tidak terjadi.
Jay mengatakan perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi periode panas ekstrem. Dia juga menyoroti bahwa pada tahun lalu, kekeringan ekstrem melanda lebih dari separuh daratan dunia selama setidaknya satu bulan.
Biaya Ekonomi
Para peneliti memperkirakan pemanasan global telah merugikan perekonomian dunia lebih dari satu triliun dollar AS per tahun selama tiga tahun terakhir akibat penurunan produktivitas pekerja.
Asia Tenggara dan Afrika menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan kerugian ekonomi masing-masing diperkirakan setara dengan 3,9 persen dan 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sebagai perbandingan, kerugian di Eropa diperkirakan mencapai 0,2 persen dari PDB, sedangkan di Amerika sebesar 1,5 persen.
Meski demikian, laporan tersebut mencatat kemajuan di sejumlah bidang. Sejak 2016, sebanyak 56 dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyesuaikan sistem kesehatan dan peringatan dini untuk mengantisipasi peristiwa cuaca ekstrem.
Investasi energi bersih mencapai 2,1 triliun dollar AS pada 2025, atau dua kali lipat dibandingkan investasi pada bahan bakar fosil yang menjadi salah satu penyebab perubahan iklim.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!