Jumat, IHSG Bergerak Menguat Seiring Pemulihan Lanjutan pascakoreksi
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 10:56 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/10) pagi bergerak menguat, seiring pemulihan lanjutan pasca mengalami koreksi signifikan pada Jumat (16/10) dan Senin (19/10).
IHSG dibuka menguat 9,44 poin atau 0,18 persen ke posisi 5.397,34. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,56 poin atau 0,10 persen ke posisi 545,13.
“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400 dan jika bertahan di atas level tersebut berpotensi untuk melanjutkan penguatan. Sedangkan level 5.300 menjadi support terdekat untuk menjaga momentum positif dan mengantisipasi potensi tekanan jual. Jika menembus level tersebut, berpotensi menguji level support berikutnya di 5.180-5.200,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya, di Jakarta, Jumat.
Dari dalam negeri, BEI akan mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. BEI mencatat saat ini terdapat 80 saham kategori HSC, yang mana sejumlah saham HSC juga mendapatkan sanksi akibat melakukan pelanggaran pasar modal.
BEI telah menyerahkan surat sanksi kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasar modal, di antaranya kepada DSSA, BREN, dan CUAN.
Sebelumnya, BEI juga telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris dari sebelumnya sebesar 15 persen menjadi 7 persen mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Selain itu, BEI juga mengumumkan inisiatif yaitu penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1 persen.
Langkah-langkah regulator tersebut merupakan inisiatif untuk merespon pengumuman MSCI yang membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
Di sisi lain, Ratna mengatakan kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
“Kondisi ini meningkatkan risiko suku bunga BI dan the Fed bertahan tinggi atau kembali naik, sehingga berpotensi menekan pasar saham dan obligasi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” ujar Ratna.
Sementara dari sektor energi, khususnya minyak dan gas, Ia menyebut berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak, sementara sektor batu bara dapat memperoleh sentimen positif dari meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
“Meskipun dampaknya tetap bergantung pada harga komoditas dan kondisi fundamental masing-masing emiten,” ujar Ratna.
Dari mancanegara, fokus kebijakan pekan depan tertuju pada keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ).
Kenaikan harga energi berpotensi memperumit langkah The Fed, karena tekanan inflasi dapat membatasi ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sedangkan keputusan BOJ akan menjadi perhatian bagi pelaku pasar yang memantau arah kebijakan suku bunga Jepang dan prospek Yen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!