Tiga Orang Tewas Terinjak-injak dalam Festival Tradisional Jepang, Kereta Hias Seberat 4 Ton Picu Kekhawatiran Keselamatan
📅 Selasa, 20 Okt 2026, 10:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
TOKYO – Festival tradisional Jepang yang selama ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat kini dibayangi kekhawatiran keselamatan. Dalam serangkaian kecelakaan yang terjadi di sejumlah wilayah, tiga orang dilaporkan meninggal dunia setelah terjepit atau tertindih kereta hias festival, termasuk seorang wakil wali kota yang tewas pada akhir pekan lalu.
Korban terbaru adalah Akihiro Nabae, 62 tahun, Wakil Wali Kota Saijo, Jepang bagian barat. Ia dilaporkan terjebak di bawah kereta hias raksasa ketika mengikuti festival pada Sabtu. Nabae sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Dikutip dari The Guardian, insiden tersebut terjadi Senin (19/10), ketika Nabae bersama peserta lain membawa kereta hias dalam perayaan tahunan di Saijo. Media lokal melaporkan tidak ada peserta lain yang terluka dalam kecelakaan itu.
Kematian Nabae menambah daftar korban dalam rangkaian kecelakaan serupa yang terjadi di Jepang. Peristiwa itu juga memperbesar perhatian terhadap risiko keselamatan dalam festival yang melibatkan kereta hias berukuran besar, ratusan peserta, dan manuver berkecepatan tinggi.
Sebelumnya, kurang dari dua pekan lalu, seorang pria berusia 51 tahun meninggal dunia setelah tertindih kereta kayu yang dinaikinya dalam salah satu festival Danjiri tahunan di Prefektur Osaka, Jepang selatan.
Pada hari yang sama, seorang pria berusia 48 tahun juga tewas dalam kecelakaan serupa di acara Danjiri di kota terdekat. Polisi menyebutkan, insiden tersebut turut menyebabkan 16 orang mengalami luka-luka.
Kereta Seberat 4 Ton Melaju di Tikungan Tajam
Kecelakaan dalam festival Danjiri terjadi ketika kereta hias yang beratnya dapat mencapai empat ton terguling saat ditarik dengan kecepatan tinggi melewati tikungan tajam.
Manuver tersebut dikenal dengan istilah yarimawashi. Dalam tradisi Danjiri, ratusan peserta mendorong dan menarik kereta hias untuk melewati tikungan dengan cepat. Aksi ini menjadi salah satu bagian utama festival, tetapi sekaligus menghadirkan risiko ketika kereta kehilangan keseimbangan atau tidak dapat dikendalikan.
Festival Danjiri pada awalnya diselenggarakan sebagai bagian dari tradisi masyarakat untuk memanjatkan doa agar memperoleh panen musim gugur yang melimpah.
Sementara itu, penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan Nabae di Saijo masih belum diketahui. Polisi setempat menyatakan belum dapat memastikan apakah wakil wali kota tersebut kehilangan keseimbangan atau justru tertimpa kereta hias.
Laporan media menyebutkan terdapat 11 kereta hias, masing-masing berbobot sekitar tiga ton, yang berjejer berdampingan ketika kecelakaan terjadi.
Festival Saijo sendiri telah diselenggarakan setiap tahun sejak zaman Edo, yang berlangsung pada 1603 hingga 1868. Perayaan ini menampilkan lebih dari 100 kereta hias sebagai bentuk ungkapan syukur kepada dewa-dewa Shinto atas hasil panen biji-bijian yang melimpah, menurut kantor berita Jiji.
Wali Kota Saijo Terpukul atas Kematian Wakilnya
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!