Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alissa Wahid: Hari Santri 2026 Harus Jadi Momentum Penguatan Pesantren Ramah Anak

📅 Selasa, 20 Okt 2026, 10:41 WIB | Oleh: Tim Penulis
Alissa Wahid: Hari Santri 2026 Harus Jadi Momentum Penguatan Pesantren Ramah Anak Doc: Kemenag
Ket. Tim Penasihat Ahli Menteri Agama sekaligus Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid.

JAKARTA - Tim Penasihat Ahli Menteri Agama sekaligus Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, mengatakan peringatan Hari Santri 2026 pada 22 Oktober harus dijadikan sebagai momentum penguatan perlindungan santri dan mewujudkan pesantren ramah anak.

“Pesantren tidak hanya dituntut unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga harus mampu menjamin keselamatan, martabat, dan hak-hak anak di lingkungan pendidikan maupun pengasuhan,” ujar Alissa Wahid dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/10).

Alissa mengatakan pesantren perlu menyesuaikan sistem pendidikan dan pengasuhan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, pesantren ramah anak bukan sekadar upaya mencegah kekerasan, melainkan juga memastikan fasilitas, mekanisme, dan pola pengasuhan benar-benar berorientasi pada kemaslahatan santri.

Momentum Hari Santri dan keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren perlu menjadi dorongan untuk memperkuat tata kelola pesantren, termasuk membangun sistem perlindungan santri yang lebih baik.

Pesantren diharapkan mampu mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan tradisi yang baik, sekaligus mengevaluasi praktik pengasuhan yang berpotensi membahayakan anak.

Ia menjelaskan perubahan lingkungan sosial dan perkembangan teknologi digital membuat anak memperoleh informasi dari berbagai sumber.

“Kondisi tersebut menuntut pesantren menyesuaikan metode pendidikan, pola interaksi, serta fasilitas agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan santri,” katanya.

Alissa mengakui meningkatnya perhatian publik terhadap kasus kekerasan di lingkungan pesantren menjadi salah satu alasan penting untuk memperkuat penerapan pesantren ramah anak.

Namun, upaya tersebut tidak boleh terbatas pada penanganan kasus, melainkan juga mencakup perbaikan sarana dan prasarana, sistem pengawasan, serta pola pengasuhan.

Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 42 ribu pesantren dengan jutaan santri. Karena itu, pengelola pesantren perlu memahami bahwa risiko perundungan, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual juga dapat terjadi di lingkungan pendidikan berasrama.

“Kalau di pesantren ada persoalan, ya kita harus menyelesaikan itu,” ujarnya.

Menurut Alisa, pesantren memiliki peluang besar untuk mencegah kekerasan karena menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai lembaga pendidikan dan lembaga pengasuhan.

Dengan kehidupan santri yang berlangsung di lingkungan pesantren, pengasuh memiliki ruang lebih luas untuk membangun sistem pencegahan dan pengawasan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp102.250...
Advertisement
Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

Jadwal Liga Champions: PSG Ditantang Barcelona, Bayern Muenchen Jamu Arsenal

20 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.