Polres Nabire Redam Konflik Dua Kelompok Nyaris Picu Perang Suku
📅 Sabtu, 17 Okt 2026, 18:11 WIB | Oleh: SujarNABIRE -- Kepolisian Resor Nabire, Papua Tengah, berhasil meredam konflik dua kelompok warga yang nyaris memicu perang suku setelah 11 orang dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.
Wakil Kepala Polres Nabire Komisaris Polisi Henri Alfredo Korwa di Nabire, Sabtu, mengatakan keributan antara kedua kelompok warga terjadi pada Jumat (16/10) malam dan berlanjut hingga Sabtu (17/10) pagi.
"Kami sudah mempertemukan kedua kelompok bersama kepala suku dan akhirnya mereka sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dengan tidak memperpanjang kejadian kemarin,” katanya.
Keributan terjadi di depan SMP Negeri 2 Nabire dan SD Inpres Bumiwonorejo, Jalan Perintis. Selain 11 orang terluka, insiden tersebut mengakibatkan satu kendaraan milik petugas mengalami kerusakan dan tujuh kendaraan umum ikut terdampak.
Setelah kesepakatan damai tercapai, pihak kepolisian bersama tokoh masyarakat kemudian menyampaikan hasil pertemuan kepada masing-masing kelompok untuk memastikan seluruh pihak mematuhi kesepakatan.
Meski kedua kelompok telah sepakat berdamai, aparat keamanan tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya keributan susulan.
Sebanyak 100 personel gabungan dari Polres Nabire dan Brimob Batalyon A Polda Papua Tengah dikerahkan pada Sabtu sore.
Menurutnya, personel telah berjaga sejak pagi dan tetap berada di lokasi hingga malam untuk menjaga situasi keamanan serta mencegah konflik kembali meluas.
Mengenai pemicu keributan, kepolisian masih melakukan pendalaman. Berdasarkan informasi awal, insiden tersebut diduga berawal dari kesalahpahaman mengenai sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman.
"Untuk penyebab pastinya masih kami dalami. Informasi awal memang ada miskomunikasi terkait sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman. Namun, prinsipnya kami masih melakukan pengecekan di lapangan," ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat memperkeruh situasi.
Warga juga diminta menyerahkan penanganan persoalan kepada aparat keamanan dan menunggu informasi resmi kepolisian.
Dalam surat pernyataan damai, kedua kelompok menyepakati empat poin, yakni menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, saling meminta maaf, bertanggung jawab atas korban maupun kerusakan barang di pihak masing-masing, serta menganggap insiden baru setelah kesepakatan sebagai persoalan terpisah.
Ia berharap seluruh pihak mematuhi kesepakatan tersebut dan menahan diri agar keributan tidak kembali terjadi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!