Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Presiden Microsoft: Pengawasan pada Susu dan Mesin Cuci Justru Lebih Ketat dari pada AI, Desak Aturan Keselamatan Lebih Ketat

3 Selasa, 13 Okt 2026, 00:01 WIB | Oleh:
Presiden Microsoft: Pengawasan pada Susu dan Mesin Cuci Justru Lebih Ketat dari pada AI, Desak Aturan Keselamatan Lebih Ketat Presiden Microsoft: Pengawasan pada Susu dan Mesin Cuci Justru Lebih Ketat dari pada AI, Desak Aturan Keselamatan Lebih Ketat Doc: Istimewa
Ket. Brad Smith menilai perusahaan harus memiliki sistem penghentian darurat yang memungkinkan teknologi tersebut dihentikan atau diperlambat ketika perilakunya mulai berada di luar kendali.

REDMOND – Presiden Microsoft, Brad Smith, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan pengawasan keselamatan yang belum memadai. Ia menilai teknologi AI saat ini bahkan memiliki regulasi keselamatan yang lebih sedikit dibandingkan produk sehari-hari seperti susu dan mesin cuci.

Dari The Guardian, Smith menyerukan aturan yang lebih ketat untuk mengendalikan perkembangan AI, termasuk penerapan mekanisme penghentian darurat atau kill switch serta kewajiban hukum bagi perusahaan apabila sistem AI mereka menimbulkan kerugian akibat tindakan agen AI yang tidak terkendali.

Smith menyoroti kesenjangan antara pesatnya perkembangan teknologi AI dan aturan keselamatan yang mengiringinya.

“Saat ini, mesin cuci Anda tunduk pada lebih banyak peraturan keselamatan daripada AI. Setiap karton susu yang Anda lihat di toko kelontong tunduk pada peraturan keselamatan dan inspeksi.”

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya desakan dari para ahli, politisi, dan regulator agar pemerintah memperketat pengawasan terhadap AI. Sejumlah perusahaan teknologi, termasuk Anthropic, Google DeepMind, dan OpenAI, juga telah memperingatkan bahwa laju pengembangan teknologi ini perlu diperlambat demi mengantisipasi risiko keselamatan.

Menurut Smith, AI dapat menjadi "alat dan senjata" sehingga pengembangannya perlu disertai mekanisme pengamanan yang memadai. Ia menilai perusahaan harus memiliki sistem penghentian darurat yang memungkinkan teknologi tersebut dihentikan atau diperlambat ketika perilakunya mulai berada di luar kendali.

Gagasan serupa disampaikan oleh CEO Microsoft, Satya Nadella. Pada Sabtu, Nadella menyerukan agar model AI dilengkapi dengan mekanisme pengendalian yang dapat memastikan perilakunya tetap bisa diamati, diuji, dan dikendalikan manusia.

Ia menulis:

“Kita tidak bisa memperlakukan kecerdasan super sebagai serangkaian kotak hitam yang saling terkait dan begitu saja menerima atau menolak rekomendasi, jawaban, dan tindakannya.

“Kita harus membangun sistem tertutup yang perilakunya dapat kita amati, batasannya dapat kita uji, dan tindakannya selalu dapat kita kendalikan.”

Pernyataan Smith dan Nadella menjadi sorotan karena Microsoft merupakan salah satu pemain utama dalam industri AI. Perusahaan tersebut mengoperasikan infrastruktur AI dan memiliki investasi di OpenAI, pengembang ChatGPT.

Desakan untuk memperketat regulasi juga menguat di Inggris. Menteri AI Inggris, Kanishka Narayan, diperkirakan akan meminta perusahaan pengembang model AI mutakhir untuk meningkatkan langkah-langkah keselamatan dan memperkuat perlindungan terhadap berbagai risiko yang muncul dari teknologi tersebut.

Pemerintah Inggris juga tengah bersiap menyusun undang-undang untuk memperkuat pengawasan terhadap AI.

Selain risiko perilaku sistem yang tidak terkendali, para ahli menyoroti ancaman pencurian model AI canggih oleh negara-negara yang bermusuhan. Geoffrey Irving, mantan kepala ilmuwan di AI Security Institute Inggris, menilai perusahaan AI belum memiliki perlindungan yang memadai untuk mencegah model mereka dicuri oleh pihak asing.

Ia memperingatkan bahwa kelemahan keamanan tersebut dapat membuka peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh akses ke teknologi AI canggih yang belum dirilis ke publik.

Kekhawatiran mengenai perilaku AI yang menyimpang juga semakin mengemuka. Pekan lalu, Anthropic mengungkapkan hasil pengujian terhadap salah satu versi model Claude yang menunjukkan tindakan tidak diinginkan: sistem tersebut menghubungi polisi dan secara keliru mengklaim dapat membantu memecahkan kasus pembunuhan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Megapolitan
Pencatutan Nama Pejabat Jad...

Bansos bagi 2.200 Warga Tangerang Cair

54 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Bansos bagi 2.200 Warga Tan...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.