Pakar Kartografi UGM: Peta Equal Earth Tampilkan Luas Benua Lebih Proporsional
📅 Jumat, 09 Okt 2026, 19:15 WIB | Oleh: Eko S“Tidak ada satu sistem proyeksi pun yang fit for all purpose. Jadi, tidak bisa untuk semua keperluan,” tegasnya.
Bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berada di sekitar ekuator, pemilihan proyeksi perlu disesuaikan dengan tujuan pembuatan peta. Equal Earth dapat digunakan sebagai alternatif untuk materi pendidikan yang membantu siswa memahami perbandingan luas benua. Sementara itu, kebutuhan navigasi dan pemetaan teknis dapat memerlukan sistem proyeksi berbeda.
Ari juga menekankan perlunya tenaga profesional kartografi dalam pembuatan peta. Penentuan proyeksi harus memperhitungkan tingkat distorsi agar informasi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Di Indonesia, Badan Informasi Geospasial (BIG) berperan menyediakan peta dasar yang menjadi acuan berbagai kegiatan pemetaan.
Memahami Keterbatasan Peta Digital
Distorsi peta juga perlu dipahami masyarakat ketika menggunakan layanan digital, seperti Google Maps. Menurut Ari, pembacaan peta tidak cukup hanya mengandalkan tampilan visual, tetapi juga perlu mempertimbangkan sistem proyeksi dan datum geodetik yang digunakan. Kedua aspek tersebut dapat memengaruhi penyajian posisi dan hasil pengukuran.
Google Maps menggunakan proyeksi Web Mercator untuk menampilkan peta digital. Sistem ini mendukung penyajian peta dalam cakupan global, tetapi memiliki keterbatasan dalam menggambarkan luas wilayah, terutama di daerah lintang tinggi. Karena itu, ukuran suatu wilayah yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan perbandingan luas sebenarnya.
Selain proyeksi, perbedaan antara jarak pada peta dan jarak di lapangan juga dapat berkaitan dengan skala, sistem koordinat, datum, serta metode pengukuran. Pengguna perlu memahami perbedaan fungsi peta untuk gambaran umum, navigasi, dan pemetaan teknis yang digunakan untuk pengukuran tertentu.
Ari menegaskan, peta yang baik bukan berarti peta tanpa distorsi sama sekali. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian informasi yang disajikan dengan tujuan pembuatannya.
“Setiap peta pasti ada distorsi yang terjadi karena bentuk aslinya itu bulat, diproyeksikan dari tiga dimensi ke dua dimensi. Namun, pasti ada suatu aspek yang dipertahankan sesuai dengan tujuan pemetaannya,” pungkasnya.
Dengan demikian, Equal Earth dan Mercator memiliki fungsi yang berbeda sesuai kebutuhan. Equal Earth membantu menunjukkan perbandingan luas wilayah secara lebih proporsional, sedangkan Mercator tetap berguna untuk kebutuhan navigasi tertentu. Pemahaman terhadap karakteristik masing-masing proyeksi diperlukan agar masyarakat dapat membaca peta secara kritis dan memperoleh gambaran geografis yang tepat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!