Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pakar Kartografi UGM: Peta Equal Earth Tampilkan Luas Benua Lebih Proporsional

📅 Jumat, 09 Okt 2026, 19:15 WIB | Oleh:
Pakar Kartografi UGM: Peta Equal Earth Tampilkan Luas Benua Lebih Proporsional Doc: Dok. Magnific

YOGYAKARTA — Perubahan cara dunia menggambarkan ukuran benua kembali menjadi perhatian setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan penggunaan proyeksi peta Equal Earth. Proyeksi ini dinilai dapat menyajikan perbandingan luas wilayah secara lebih proporsional, termasuk memperlihatkan ukuran Afrika yang selama ini tampak lebih kecil pada peta dunia dengan proyeksi Mercator.

Kepala Laboratorium Kartografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ari Cahyono, menjelaskan perbedaan tampilan wilayah pada peta dipengaruhi sistem proyeksi yang digunakan. Proyeksi merupakan metode untuk menggambarkan permukaan bumi yang melengkung ke bidang datar. Dalam proses tersebut, distorsi tidak dapat dihindari, baik terhadap bentuk, luas, jarak, maupun sudut.

“Dari bentuk yang bidang lengkung ke bidang datar itu pasti akan timbul distorsi. Sehingga peta yang dihasilkan itu tidak mungkin 100 persen semua aspek benar. Tidak mungkin dia bisa mempertahankan bentuk wilayah, luas wilayah, jarak, maupun sudut, semuanya dengan benar,” jelasnya, Jumat (9/10).

Mercator dan Equal Earth

Proyeksi Mercator dikembangkan Gerardus Mercator pada abad ke-16 untuk memenuhi kebutuhan navigasi pelayaran. Sistem ini mampu mempertahankan arah dan sudut sehingga membantu pelaut menentukan jalur perjalanan. Namun, konsekuensinya adalah perubahan tampilan luas wilayah yang semakin besar pada daerah yang letaknya jauh dari garis ekuator.

Dampak distorsi tersebut terlihat pada Greenland dan Antarktika yang tampak jauh lebih besar daripada ukuran relatif sebenarnya. Amerika Utara dan Eropa juga terlihat lebih luas dibandingkan dalam proyeksi yang mempertahankan proporsi luas. Sebaliknya, distorsi luas di wilayah sekitar ekuator relatif lebih kecil.

Menurut Ari, penggunaan Mercator tetap tepat untuk keperluan tertentu, khususnya navigasi. Namun, proyeksi ini kurang sesuai jika tujuan peta adalah membandingkan luas antarwilayah secara proporsional.

“Kalau peta gunanya untuk pelayaran, Mercator tetap bagus. Tapi ketika ingin memberikan persepsi orang akan suatu wilayah, yang mana persepsi antarnegara satu dengan negara lain itu punya persepsi yang sama akan kondisi wilayah yang sebenarnya, maka lebih cocok pakai Equal Earth,” paparnya.

Equal Earth dirancang agar perbandingan luas wilayah pada peta dunia lebih mendekati proporsi sebenarnya. Dengan pendekatan ini, pembaca dapat membandingkan ukuran benua dan negara tanpa mengalami distorsi luas seperti yang muncul pada proyeksi Mercator.

Ari menilai, cara suatu wilayah ditampilkan dalam peta turut memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap kondisi geografis dunia. Wilayah yang terlihat lebih besar dapat membentuk persepsi yang tidak sejalan dengan perbandingan luas sebenarnya.

“Karena peta itu sebagai representasi visual, maka tentu kita bicara persepsi visual manusia. Persepsi kita dalam membaca peta yang benar dengan persepsi kita akan wilayah yang kita bayangkan tadi pasti juga berpengaruh,” ungkapnya.

Menurut dia, penggunaan proyeksi yang mempertahankan luas dapat membantu menyajikan perbandingan antarwilayah secara lebih berimbang. Dalam hal ini, Equal Earth memberikan gambaran proporsi luas Afrika terhadap benua lainnya yang lebih sesuai dibandingkan proyeksi yang memperbesar wilayah di lintang tinggi.

Meski demikian, Ari mengingatkan bahwa Equal Earth bukan pilihan terbaik untuk seluruh kebutuhan pemetaan. Sistem proyeksi harus ditentukan berdasarkan tujuan penggunaan, lokasi yang dipetakan, skala, serta unsur geografis yang ingin dipertahankan.

Setiap jenis proyeksi memiliki karakteristik tersendiri. Proyeksi azimutal, misalnya, dapat digunakan untuk pemetaan wilayah kutub. Proyeksi silinder memiliki kegunaan tertentu untuk wilayah sekitar ekuator, sedangkan proyeksi kerucut kerap diterapkan pada wilayah lintang tengah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
Advertisement
Event Jakarta Akhir Pekan 10-11 Oktober: Ada Avenged Sevenfold hingga Victoria Run

Event Jakarta Akhir Pekan 10-11 Oktober: Ada Avenged Sevenfold hingga Victoria Run

09 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.