Perpisahan Messi Menutup Kisah Panjang dan Penuh Perjuangan Bersama Timnas Argentina
Selasa, 06 Okt 2026, 06:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra“Ada penolakan yang cukup kuat terhadap pemanggilan seorang anak yang tidak bermain di Argentina,” ujar Levinsky.
Messi harus menghadapi kecurigaan awal, termasuk anggapan bahwa dirinya merupakan “orang asing” karena menjalani kehidupan dan karier di Spanyol.
Masalah tersebut kemudian berlanjut di level senior. Sebagian suporter menganggap Messi tidak mampu menampilkan performa luar biasa seperti yang ia tunjukkan bersama Barcelona ketika membela Argentina.
Ia bahkan sempat mendapat cap “pecho frio”, istilah yang digunakan sebagian penggemar untuk menyebut pemain yang dianggap tidak memiliki keberanian, gairah, atau semangat bertarung.
Persepsi tersebut perlahan berubah setelah pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Kolombia pada 2011.
Argentina tertinggal lebih dulu dalam kondisi pertandingan yang sulit. Messi kemudian memimpin kebangkitan timnya hingga meraih kemenangan.
“Dia sangat kelelahan, bahkan muntah, tetapi akhirnya dia membawa mereka meraih kemenangan,” kata Levinsky. “Itu adalah pertama kalinya para suporter melihatnya dengan cara yang berbeda.”
Hubungan Messi dengan publik Argentina semakin kuat setelah salah satu titik terendah dalam karier internasionalnya.
Pada final Copa America 2016, Argentina kembali kalah dari Chile melalui adu penalti. Messi gagal menuntaskan momen tersebut dengan trofi dan kemudian mengumumkan keputusan untuk pensiun sementara dari tim nasional.
Namun, reaksi publik Argentina kali ini berbeda.
Alih-alih menyalahkan Messi, masyarakat justru memintanya kembali.
“Orang-orang menyadari bahwa dia bukan penyebab kekalahan. Dialah yang membawa mereka ke final,” ujar Levinsky.
Messi akhirnya kembali. Di bawah kepemimpinan Lionel Scaloni, ia kemudian berubah menjadi pemimpin tak terbantahkan bagi generasi baru Argentina.
Hasilnya luar biasa. Messi membawa Argentina meraih dua gelar Copa America dan akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan memenangkan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Perubahan Messi sebagai kapten juga terlihat jelas. Ia menjadi lebih vokal, lebih berani menyampaikan pendapat dan semakin kuat dalam memimpin rekan-rekannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!