Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Kronologi Letusannya dari 1883 hingga 2026
Sabtu, 05 Sep 2026, 18:16 WIBJakarta - Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang tumbuh di kawasan kaldera Krakatau setelah letusan dahsyat pada 1883. Aktivitas vulkaniknya telah berlangsung secara berkala hingga kembali menunjukkan peningkatan pada 2026.
1883 â Letusan dahsyat Krakatau
Letusan besar Kompleks Krakatau pada Agustus 1883 menyebabkan sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera. Di kawasan inilah kemudian tumbuh gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
1927-1929 â Anak Krakatau muncul
Aktivitas erupsi mulai terdeteksi pada 1927 ketika tubuh gunung masih berada di bawah laut. Dua tahun kemudian, Anak Krakatau muncul ke permukaan dan terus tumbuh melalui penumpukan material vulkanik.
1952 â Pembentukan kawah
Aktivitas vulkanik membentuk kawah yang menjadi bagian dari morfologi Anak Krakatau hingga sebelum perubahan besar akibat longsoran pada 2018.
2016-2017 â Erupsi berkala
Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 20 Juni 2016 dan 19 Februari 2017. Erupsi 2017 berkarakter strombolian dengan lontaran material pijar.
Juni-Oktober 2018 â Aktivitas meningkat
Erupsi kembali dimulai pada 29 Juni 2018 setelah jeda aktivitas sekitar 81 bulan. Aktivitas semakin intensif hingga September dan Oktober, ditandai ribuan gempa letusan, lontaran lava, serta perubahan morfologi kawah.
22 Desember 2018 â Longsoran dan tsunami
Aktivitas erupsi menyebabkan sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh pada 22 Desember 2018. Longsoran tersebut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda dan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau.
26-28 Desember 2018 â Bentuk gunung berubah
Sebagian besar tubuh gunung hilang setelah longsoran. Aktivitas erupsi kemudian berlanjut dengan karakter yang berbeda. Pada 27 Desember, PVMBG menaikkan status Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
2026 â Aktivitas kembali meningkat
Badan Geologi menaikkan status Anak Krakatau dari Level II menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 setelah terdeteksi peningkatan aktivitas vulkanik, termasuk emisi gas, anomali panas, dan titik api di kawah.
Pada Jumat (4/9) malam, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Erupsi berupa pancaran lava (lava fountain) mulai teramati sekitar pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung pada Sabtu (5/9).
PVMBG mengimbau masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
PVMBG juga memastikan aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi memicu tsunami, karena tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Dengan demikian, hingga Sabtu (5/9), Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga) dan mengalami erupsi menerus. Masyarakat diminta tetap tenang serta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi PVMBG dan Badan Geologi.
- Erupsi Gunung Anak Krakatau
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Skandal Rumah Duka Chicago: 56 Jenazah Ditemukan Membusuk
-
Dari Homer ke IMAX: Ramai Diperdebatkan, Ini Perubahan Besar 'Suka-suka' Christopher Nolan dalam 'The Odyssey'
-
DPRD DKI Minta Pemprov Terapkan AI Awasi Parkir, Cegah Kebocoran PAD
-
Asah Kreativitas, Pemda DIY Perkuat Ekosistem UMKM untuk Tingkatkan Daya Saing
-
Wujudkan Kemandirian, Menlu Soroti Perlunya Perkuat Ketahahan Lewat Keamanan Pangan dan Energi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.