Perkuat Pengaruh Budaya Indonesia, Kadin Luncurkan Nusantara Rising

Jumat, 04 Sep 2026, 13:38 WIB

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan Nusantara Rising: Indonesia’s Collcetive Soft Power Movement, sebuah gerakan kolaboratif untuk memperkuat pengaruh budaya Indonesia di tingkat global.

Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengatakan inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari Indonesia Soft Power Paper yang diinisiasi Kadin bersama pelaku industri dan berbagai pemangku kepentingan.

Ket. Foto: Kadin Indonesia memperkenalkan Nusantara Rising: Indonesia's Collective Soft Power Movement," kata dia dalam pidatonya pada acara peluncuran di Jakarta, Jumat (4/9). — Sumber: antara foto

"Dokumen ini adalah fondasi dan peta awal untuk bergerak bersama. Sebagai kelanjutan dari gagasan tersebut, hari ini Kadin Indonesia memperkenalkan Nusantara Rising: Indonesia's Collective Soft Power Movement," kata dia dalam pidatonya pada acara peluncuran di Jakarta, Jumat (4/9).

Menurut dia, Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar, mulai dari ribuan suku bangsa dan tradisi, ratusan bahasa daerah, hingga beragam cerita rakyat, musik, tari, kuliner, dan wisata.

Namun, kebudayaan tersebut belum otomatis menjadi kekuatan. Budaya, ucap Sara, perlu dipandang tidak hanya sebagai warisan, tetapi juga sumber daya yang menciptakan daya tarik, daya cipta, nilai ekonomi, dan daya pengaruh global.

"Di sini kebudayaan dan ekonomi kreatif bertemu. Ekonomi kreatif adalah mesin yang dapat mengolah kekayaan itu menjadi karya, produk, IP (kekayaan intelektual), lapangan kerja, ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi masa depan," ucapnya.

Dia mengibaratkan budaya sebagai sumber daya, sementara ekonomi kreatif menjadi mesin penggeraknya. Jika dikelola secara strategis, budaya dapat menjadi mesin ekonomi sekaligus sumber pengaruh global.

"Soft power adalah daya pengaruh yang lahir ketika keduanya bergerak bersama secara strategis," tuturnya.

Sejumlah negara telah berhasil menjadikan budaya sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi sekaligus pengaruh global, seperti Korea Selatan melalui hallyu (gelombang Korea), Jepang dengan Cool Japan, dan China dengan cultural confidence.

Sara yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR itu mengatakan​ strategi serupa perlu dibangun agar budaya nasional tidak hanya ditampilkan dalam seremoni atau dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu membentuk persepsi dunia terhadap Indonesia.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa Kadin mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif untuk menginisiasi pembentukan Komite Soft Power Indonesia.

Komite tersebut dirancang sebagai kolaborasi lintas sektor untuk menghubungkan pemerintah, dunia usaha, pelaku budaya, kreator, akademisi, komunitas, media serta mitra pembiayaan dan teknologi dalam satu ekosistem.

"Komite Soft Power Indonesia kami bayangkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor, sebuah wadah untuk menghubungkan semua pemangku kepentingan. Tujuannya bukan untuk menambah birokrasi, tujuannya adalah mempercepat orkestrasi," katanya.

Ditemui usai peluncuran, Sara mengatakan Kadin ke depannya akan menghimpun berbagai asosiasi di sektor budaya dan ekonomi kreatif untuk menyerap aspirasi serta menyusun peta jalan komite tersebut.

Selain itu, Kadin juga akan menjajaki dukungan dari Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memperkuat aspek diplomasi dan ekosistem digital dalam pengembangan soft power.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta Kamdani mengatakan Indonesia perlu mengubah pendekatan pengembangan industri budaya dari sektoral menjadi sirkular.

"Selama ini film berjalan sendiri, gim berjalan sendiri, fesyen berjalan sendiri, kriya berjalan sendiri, padahal nilai yang sesungguhnya lahir justru ketika sektor-sektor ini saling menarik dan saling memperkuat sebagaimana telah dibuktikan Jepang, Korea Selatan, dan China," ucap Shinta dalam pidatonya.

Ia mengatakan pemerintah memiliki peran menyediakan regulasi dan insentif, sedangkan dunia usaha memiliki keunggulan dalam menghubungkan berbagai lini industri, membangun rantai nilai, serta menghadirkan investasi dan akses pasar.

Oleh sebab itu, melalui Nusantara Rising, Kadin mendorong orkestrasi lintas sektor.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.