Lebih dari 3.000 Individu Pari Manta Terdokumentasi di Perairan Raja Ampat
Jumat, 25 Sep 2026, 17:47 WIBSorong - Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia Edy Setyawan mengatakan lebih dari 3.000 individu pari manta telah terdokumentasi di perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan sejak 2003.
Dia mengatakan, jumlah tersebut terdiri atas lebih dari 2.100 individu pari manta karang (Mobula alfredi) yang terdokumentasi sejak 2003 dan lebih dari 900 individu pari manta oceanic (Mobula birostris) sejak 2008.
"Kalau untuk pari manta di Raja Ampat ada dua spesies, yakni pari manta karang dan pari manta oceanic. Untuk pari manta karang kita sudah mendokumentasikan lebih dari 2.100 individu yang berbeda sejak 2003, sedangkan pari manta oceanic lebih dari 900 individu sejak 2008," kata Edy seusai mengikuti lokakarya manta impact bond di Sorong, Jumat.
Menurut dia, Raja Ampat merupakan salah satu wilayah penting bagi konservasi pari manta karena memiliki populasi terbesar kedua di dunia dan terbesar di Indonesia.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil dokumentasi, konsentrasi pari manta paling banyak ditemukan di kawasan Selat Dampir dan Misool Timur Selatan.
"Di kawasan konservasi Selat Dampir ada sekitar 500 sampai 600 individu, sama dengan di Misool Timur Selatan sekitar 500 sampai 600 juga," ujarnya.
Edy mengatakan upaya konservasi pari manta di Raja Ampat telah berlangsung sejak 2006, seiring dengan pembentukan kawasan konservasi.
Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui sejumlah kebijakan, antara lain surat edaran Bupati Raja Ampat pada 2010 untuk melindungi kawasan Selat Dampir dari perburuan manta dan hiu.
Selanjutnya, pada 2012 Raja Ampat mendeklarasikan suaka margasatwa pari manta pertama di Asia Tenggara. Inisiatif tersebut turut mendorong perlindungan pari manta secara nasional pada 2014.
"Dari data 10 tahun, 2009 sampai 2019, kita melihat adanya peningkatan populasi pari manta di Selat Dampir dan Misool Timur Selatan," katanya.
Namun, menurut Edy, upaya mempertahankan populasi pari manta masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan pendanaan untuk kegiatan konservasi yang berkelanjutan.
Karena itu, Konservasi Indonesia bersama para pemangku kepentingan mulai merancang skema pembiayaan jangka panjang melalui Manta Impact Bond untuk mendukung konservasi pari manta di Raja Ampat.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata mengatakan skema tersebut dirancang sebagai bagian dari rencana konservasi pari manta selama 20 tahun.
Ia mengatakan terdapat sedikitnya enam ancaman utama yang telah diidentifikasi dalam lokakarya, yakni perburuan ilegal, pari manta terkena alat tangkap seperti pancing dan jaring, sampah dan polusi, pariwisata yang tidak bertanggung jawab, tabrakan dengan kapal, serta sedimentasi.
"Di workshop ini kita mengidentifikasi setidaknya ada enam masalah terkait dengan perburuan ilegal terhadap pari manta, alat tangkap, sampah dan polusi, pariwisata tidak bertanggung jawab, tertabrak kapal, serta sedimentasi," katanya.
Menurut Iqbal, hasil identifikasi tersebut akan menjadi dasar untuk menyusun kebutuhan intervensi konservasi selama 20 tahun sekaligus menghitung kebutuhan pembiayaan.
Sementara itu, Sustainable Finance Ocean Manager Konservasi Indonesia Ruth Aprilia menjelaskan Manta Impact Bond akan melibatkan penyandang dana awal yang menyediakan modal untuk membiayai kegiatan konservasi melalui Manta Resilience Fund.
Keberhasilan kegiatan kemudian akan dinilai oleh verifikator independen berdasarkan indikator yang telah disepakati, seperti pertumbuhan populasi pari manta atau indikator konservasi lainnya.
"Proses desain ini akan memakan waktu sekitar dua tahun. Kemungkinan besar implementasinya baru akan dilaksanakan pada 2029," kata Ruth.
- Pari Manta
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.