Rupiah Dibayangi Kebuntuan Selat Hormuz
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 10:10 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA - Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif da lam perdagangan akhir pekan ini.
Dinamika konflik Ame rika Serikat (AS) dapat membebani pergerakan rupiah.
Analis mata uang Ibrahim Assuabi melihat kemacetan jalur distribusi minyak global, Selat Hormuz menjadi an caman terhadap lonjakan harga minyak dunia.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (21/8), bergerak fluktuatif di kisaran 17.700-17.750 rupiah per dol lar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis (20/8), bergerak menguat 92 poin atau 0,52 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.748 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
s mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjang ka Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah dipengaruhi respons positif pasar atas rencana pemangkasan kuota Ba han Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada 2027.
“Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Pengurangan subsidi BBM dinilai menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian sub sidi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen, lanjut nya, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM ber subsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.
Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga mi nyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 75 dollar AS per barel pada 2027, masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran 83 dol lar AS per barel.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan bia ya transportasi dan mobilitas masyarakat.
Terlebih, peng guna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, sikap hati-hati para investor masih terus mem bayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini.
Hal ini mengingat defisit pada kuartal pertama sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah aki bat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak mentah dunia terus menguat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!