- Home
-
- Luar Negeri
-
- Desa-desa Hantu di Irak: I...
Desa-desa Hantu di Irak: ISIS Mengusir Warga, Kini Musuh Baru Mencegah Penduduk Pulang Kembali
Rabu, 19 Agu 2026, 00:00 WIBSINJAR â Hampir satu dekade setelah perang melawan ISIS berakhir di Irak utara, sejumlah desa di Distrik Sinjar masih belum pulih. Rumah-rumah yang rusak akibat pertempuran belum seluruhnya dibangun kembali. Di saat yang sama, kekeringan, suhu ekstrem, dan menurunnya ketersediaan air membuat kehidupan masyarakat pedesaan semakin sulit.
Dari The Guardian, Faka, sebuah desa kecil di Sinjar, menjadi salah satu gambaran kondisi tersebut. Saat ini, suasana desa jauh berbeda dibanding sebelum ISIS menguasai wilayah tersebut pada 2014.
Tidak banyak aktivitas terlihat di jalan-jalan desa. Rumah-rumah tanpa atap berdiri di lereng bukit. Sebagian dinding masih menunjukkan bekas kerusakan akibat pertempuran dan serangan artileri. Rumput liar tumbuh di antara bangunan yang ditinggalkan.
Sebelum Agustus 2014, sekitar 150 keluarga tinggal di Faka. Ketika ISIS merebut wilayah Sinjar, penduduk melarikan diri. Pada periode tersebut, ISIS melakukan serangan terhadap komunitas Yazidi yang kemudian diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai genosida. Ribuan orang tewas dan lebih dari 6.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, diculik.
Faka dan desa Qubq di dekatnya tidak mengalami pembantaian massal seperti sejumlah desa lain di kawasan Sinjar. Namun, pertempuran darat dan serangan udara koalisi menyebabkan banyak bangunan rusak.
Kini, hanya sekitar 20 keluarga yang kembali ke Faka. Sebagian besar warga memilih menetap di tempat lain karena minimnya rekonstruksi, lapangan kerja, dan layanan dasar.
âSaat ini, masalahnya bukan hanya ISIS. Masalahnya adalah air. Pekerjaan. Masa depan,â kata Rajab Mohammed, 62 tahun, kepala Desa Faka.
Kondisi serupa terjadi di Qubq. Aqil Ridha mengatakan banyak warga yang ingin kembali, tetapi tidak memiliki tempat tinggal dan sumber penghasilan.
âOrang-orang bertanya mengapa keluarga tidak kembali. Jawabannya sederhana. Di mana mereka akan tinggal? Bagaimana mereka akan mencari nafkah?â ujarnya.
Suhu Mendekati 50 Derajat
Persoalan tersebut semakin kompleks karena perubahan iklim. PBB menempatkan Irak sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap penurunan ketersediaan air dan pangan serta kenaikan suhu ekstrem.
Otoritas Irak memperkirakan suhu rata-rata tahunan negara itu dapat meningkat sekitar 2,5 derajat Celsius pada 2050. Jumlah hari dengan suhu yang melewati ambang panas ekstrem juga diperkirakan bertambah.
Di Sinjar, suhu musim panas tahun ini mendekati 50 derajat Celsius.
Curah hujan yang semakin tidak menentu dan musim panas yang lebih panjang berdampak langsung terhadap pertanian. Kekeringan berkepanjangan membuat produksi pertanian menurun, sementara pertanian masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan.
Perwakilan khusus PBB untuk Irak sebelumnya memperingatkan bahwa jika tren saat ini berlanjut, Irak hanya dapat memenuhi sekitar 15 persen kebutuhan airnya pada 2035.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat lebih dari 186.000 orang di Irak telah mengungsi akibat faktor yang berkaitan dengan perubahan iklim hingga September 2025.
Air Tanah Semakin Dalam
Di Desa Tal Jado'o, persoalan air terlihat dari perubahan kedalaman sumur yang digunakan warga.
Bahjat Othman Hasan berjalan di antara rumah-rumah yang rusak dan belum dibangun kembali. Sebelum perang, lebih dari 200 orang tinggal di desa tersebut. Kini jumlahnya sekitar 50 orang.
âOrang-orang tidak pergi karena mereka ingin. Mereka pergi karena mereka tidak bisa lagi tinggal di sini,â katanya.
Sebagian lahan pertanian di sekitar desa masih terkontaminasi ranjau darat dan amunisi yang belum meledak. Namun, warga juga menghadapi persoalan lain yang terjadi di bawah permukaan tanah.
Permukaan air tanah terus menurun. Hasan mengatakan warga harus menggali sumur lebih dalam untuk mendapatkan air.
âBertahun-tahun yang lalu, Anda bisa menemukan air di kedalaman sekitar 10 meter. Saat ini, kita harus mengebor hingga kedalaman sekitar 25 meter. Setiap tahun biayanya semakin mahal,â ujarnya.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian semakin sulit dilakukan. Biaya untuk mendapatkan air meningkat, sementara hasil pertanian menghadapi tekanan akibat suhu tinggi dan kekeringan.
Desa yang Kehilangan Penduduk
Desa Al-Sajea menunjukkan kondisi yang lebih jauh. Sebelum perang, 37 keluarga tinggal di desa tersebut. Kini tidak ada lagi warga yang menetap.
Sebanyak 24 rumah yang masih berdiri mengalami kerusakan parah. Ruangan dan halaman rumah dipenuhi tanaman liar berduri yang tumbuh di antara bangunan dan lahan pertanian yang ditinggalkan.
âSemua orang pergi ke Tal Afar,â kata Asef Hasan Ali, 43 tahun, salah satu warga yang masih kembali ke kawasan tersebut.
Ali tinggal di Tal Afar. Saat musim pertanian, dia menetap sementara di sebuah karavan di dekat lahan yang masih digarapnya.
âBagi keluarga, ini tidak mungkin: semuanya dibom, tidak ada yang bisa tinggal di sini,â ujarnya.
Persoalan iklim juga memengaruhi hasil pertanian warga. Di Desa Qazal Quyu, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Smain mengatakan kebun sayuran keluarganya terbakar setelah pusaran angin panas menerjang wilayah tersebut.
Angin yang berputar cepat di tengah kondisi panas dan kering dapat membawa debu serta memicu kerusakan pada lahan. Dalam kasus yang dialami keluarga Smain, percikan listrik disebut memicu kebakaran pada tumbuhan kering di sekitar kebun.
Anak Muda Memilih Pergi
Dampak perubahan kondisi pedesaan juga terlihat dari jumlah penduduk usia muda.
Sekolah-sekolah di desa-desa Sinjar menghadapi jumlah murid yang terus berkurang. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah dan melanjutkan kuliah, sebagian anak muda tidak kembali ke desa.
Sebagian lainnya memilih bekerja di sektor konstruksi di kota seperti Mosul atau Erbil. Penghasilan dari pekerjaan tersebut dinilai lebih stabil dibandingkan pendapatan dari pertanian yang bergantung pada kondisi air dan cuaca.
Smain mengatakan banyak teman seusianya ingin meninggalkan desa.
âHampir semua teman saya ingin pergi. Terkadang saya juga ingin pergi. Tapi jika saya pergi, siapa yang akan membantu orang tua saya?â katanya.
Di Sinjar, dampak perang masih terlihat dari rumah-rumah yang rusak, lahan yang terkontaminasi ranjau, dan desa-desa yang kehilangan penduduk. Sementara itu, kekeringan dan kenaikan suhu menambah tekanan terhadap pertanian dan ketersediaan air.
Bagi sebagian warga yang kembali, persoalannya kini bukan lagi hanya bagaimana membangun kembali rumah yang hancur, tetapi juga bagaimana mendapatkan air dan penghasilan untuk tetap tinggal di desa.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Malam Puncak HUT Jakarta 2026: Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus Bundaran HI
-
BPJS Kesehatan Turun Langsung Cek Faskes di Pulau Penyangga Natuna
-
Bukan F-35, Pilot Elite TOPGUN Ungkap Jet Tempur Favoritnya
-
Mengenal 'Sheikh of Snipers', Penembak Runduk Irak yang Habisi Ratusan Anggota ISIS
-
Swiss Hancurkan Bosnia 4-1 di Piala Dunia 2026, Dua Pemain Pengganti Jadi Pahlawan Kemenangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.