Gawat Gempa NTT Picu Ancaman Baru! Badan Geologi Ingatkan Bahaya Turutan Likuefaksi
Minggu, 16 Agu 2026, 00:09 WIBBANDUNG - Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi Gempa magnitudo 7,7 dan kedalaman 15 kilometer di NTT memunculkan bahaya ikutan yang perlu diwaspadai, mulai dari gerakan tanah, hingga likuefaksi.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria di Bandung, Sabtu, indikasi ini berdasarkan foto-foto dokumentasi dari lapangan yang memperlihatkan dampak guncangan di lapangan yang menunjukkan adanya retakan dinding, kerusakan komponen bangunan, hingga keruntuhan sebagian struktur, serta laporan adanya air yang keluar dari tanah.
"Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi," kata Lana.
Di WaekokakâMbay, kata Lana, dilaporkan adanya air yang keluar dari tanah setelah gempa, sementara di Bonea, Selayar, teramati tsunami kecil.
Atas laporan tersebut, lanjut dia, Badan Geologi melakukan analisis cepat terhadap kemungkinan terjadinya likuefaksi, dan hasil awalnya menunjukkan adanya peluang likuefaksi berdasarkan hubungan antara jarak dari sumber gempa dan kekuatan gempanya.
Dampaknya diperkirakan lebih signifikan pada wilayah yang lebih dekat dengan sumber, khususnya pada area dataran aluvium seperti sebagian wilayah Nagekeo.
"Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan," katanya.
Secara khusus, Lana menyoroti laporan keluarnya air dari dalam tanah beberapa saat setelah gempa di WaekokakâMbay. Secara awal, lanjut dia, fenomena ini diperkirakan dapat berkaitan dengan likuefaksi dalam bentuk sand boil atau semburan air berpasir dan berlumpur.
Dari indikasi awal, dampak terhadap tanah pondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang dan tidak menunjukkan karakter seperti kejadian likuefaksi tipe Palu yang dapat bergerak jauh.
"Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan," ucapnya.
Sebagai tindak lanjut, kata Lana, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke lokasi terdampak.
Tim akan melakukan kaji cepat untuk memverifikasi kondisi lapangan, memperdalam analisis, serta menyusun rekomendasi teknis mitigasi.
"Hasil penyelidikan ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya," ucapnya.
Adapun untuk masyarakat dan pemangku kepentingan, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan BPBD dan pemerintah daerah, serta mewaspadai gempa susulan. Dan jangan mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga, tambah dia, perlu memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menggunakannya, mematuhi rambu dan jalur evakuasi, serta menghindari daerah tebing yang berpotensi longsor, terutama saat hujan.
"Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan," tuturnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Badan Geologi: Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo Dipicu Sesar Naik Busur Belakang Flores
-
Breaking! BMKG Ingatkan Ancaman Tsunami hingga 3 Meter di NTT, NTB dan Sulsel
-
Harga Bawang Merah Rp46.650/Kg, Daging Ayam Rp37.000/Kg pada Minggu Pagi
-
Pemkot Jayapura: MTQ Jadi Sarana Membentuk Karakter dan Akhlak Generasi Muda Islam.
-
Lupakan Karpet Merah, Christopher Nolan, Tom Holland, dan Matt Damon Pilih Menikmati Chai Saat Promo 'The Odyssey' di Mumbai
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.