ESDM: Kendaraan Hidrogen Difokuskan untuk Perjalanan Jarak Jauh, Bukan Pesaing Mobil Listrik
📅 Selasa, 21 Jul 2026, 16:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan kendaraan dengan tenaga hidrogen ditujukan untuk perjalanan dengan jarak tempuh yang jauh tapi juga ramah lingkungan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi saat ditemui di Jakarta, Selasa (21/7), mengatakan karakteristik mobil bertenaga hidrogen berbeda dengan kendaraan listrik (EV) yang lebih diperuntukkan untuk jarak tempuh yang relatif tidak terlalu jauh.
“Jadi konsepnya adalah EV itu kan untuk jarak yang tertentu dan lebih baik me-charge (mengisi daya) itu di rumah. Jadi memang arah dari hasil (penelitian) teman-teman BRIN itu (EV) diarahkan untuk dipakai di siang hari terus-menerus, nanti malam hari balik ke rumah bisa di-charge. Nah, kalau konsepnya hidrogen itu jarak jauh,” kata Eniya.
Ia mengatakan, hal tersebut bukan berarti kendaraan bertenaga hidrogen akan menjadi pesaing bagi EV, melainkan penggunaannya berdasarkan segmen dan kebutuhan masing-masing pengguna.
Selain itu, Eniya mengatakan baik penggunaan tenaga listrik maupun hidrogen pun dapat didukung pula dengan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya seperti tenaga surya untuk berbagai kebutuhan masyarakat secara luas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mencontohkan proyek hidrogen yang tengah dikembangkan di Pulau Rengit bekerja sama dengan PT PLN (Persero) guna mendukung program dedieselisasi atau pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel di daerah terpencil.
Eniya menjelaskan program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW bisa dijadikan sebagai instrumen untuk melahirkan hidrogen.
Lebih lanjut, ia memperkirakan, penerapan sistem tersebut berpotensi memangkas biaya pembangkitan listrik secara signifikan, dengan rincian biaya listrik berbasis diesel yang saat ini mencapai sekitar Rp20.000 per kWh atau sekitar 1 dolar AS per kWh, dapat ditekan menjadi sekitar 25 sen dolar AS per kWh.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dengan menggunakan konsep elektrolisa, menggunakan air, menghasilkan hidrogen. Hidrogen dibuat lagi untuk dimasukkan ke baterai pada saat siang hari menggunakan PLTS. Jadi biar tidak terbuang, itu dilarikan ke gas hidrogen, terus dipakai lagi ke malam hari. Jadi ini mengirit baterai, lalu menurunkan biaya diesel,” jelas dia.
Eniya pun meminta para pemangku kepentingan terkait untuk melakukan perhitungan lebih lanjut dalam kurun waktu 6-12 bulan agar dampak dari upaya dedieselisasi ini bisa terukur dan terdata.
“Dan kita lihat ya, nanti apakah ini bergulir terus sampai berbulan-bulan, karena baru beberapa bulan yang lalu dicoba. Saya minta hitung sampai enam bulan, terus sampai satu tahun. Kita buktikan bahwa dedieselisasi itu bisa dilaksanakan juga,” ujar Eniya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!