Kekeringan Melanda Cilegon, Warga Mekarsari Rela Berburu Air hingga ke Hutan
Rabu, 15 Jul 2026, 20:02 WIBCILEGON, BANTEN - Di tengah krisis air akibat kemarau panjang, warga Kampung Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, Kota Cilegon, Banten, memilih mengandalkan keberadaan sumber mata air alami di kawasan Sumur Bendung untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan domestik harian mereka.
Salah seorang warga, Herlina (30), di Kota Cilegon, Rabu (15/7), mengatakan kondisi sulit air ini semakin parah sejak satu bulan terakhir akibat ketiadaan curah hujan, sehingga sumber air yang terletak di dalam kawasan hutan tersebut menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi warga sekitar.
Ia mengaku harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya dengan menempuh perjalanan yang tidak mudah setiap harinya. Mereka terpaksa berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih satu kilometer untuk mencapai lokasi mata air demi mendapatkan air bersih.
"Setiap hari kami harus berjalan kaki sekitar satu kilometer ke dalam hutan. Ini menjadi satu-satunya sumber mata air kami saat kekeringan melanda seperti sekarang," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa keberadaan mata air alami ini sangat vital bagi kelangsungan hidup keluarganya dan warga kampung. Air bersih yang mengalir dari sela-sela batuan gunung tersebut digunakan untuk memasak, air minum, hingga aktivitas mandi dan mencuci.
"Kalau tidak ada mata air ini, kami tidak tahu lagi harus mencari air ke mana. Air dari gunung ini sangat segar," paparnya.
Untuk menjaga agar pemanfaatan sumber air tetap merata dan mencukupi, warga setempat berinisiatif menerapkan sistem giliran secara tertib selama 24 jam penuh.
"Kami mengantre dari pukul 18.00 WIB sampai jam 06.00 WIB, jadi siang malam lokasi ini penuh. Sehari dibatasi hanya untuk tujuh sampai delapan orang yang dapat giliran. Kalau siang paling dapat 12 galon, tapi kalau malam bisa sampai 14 galon karena cuaca sudah tidak panas," ujarnya.
Senada dengan Herlina, warga lainnya, Masitoh (45), mengakui ketergantungan masyarakat terhadap mata air alami ini kian tinggi, terutama karena bantuan air bersih dari pihak luar maupun pemerintah daerah masih sangat terbatas.
"Bantuan air bersih dari pemerintah sejauh ini baru masuk sekitar dua kali saja. Untungnya ada mata air alami ini yang terus mengalir meskipun debet nya mengecil akibat tidak ada hujan," katanya.
Bagi warga Gunung Batur, struktur geografis yang didominasi batuan keras memang menyulitkan pembuatan sumur bor. Oleh karena itu, kelestarian mata air alami di perbukitan tersebut menjadi kunci utama ketahanan dan resiliensi warga dalam menghadapi dampak kekeringan musiman, sembari berharap hujan segera turun untuk mengisi kembali kolam penampungan alami mereka. Ant
- Ancaman Kekeringan
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Arteta vs Luis Enrique: Sahabat Lama, Rival di Final Liga Champions
-
Jose Mourinho Akui Ada Kontak dengan Real Madrid
-
Taman Bacaan Ruman Aceh Membagikan 150 Buku kepada Masyarakat
-
Cleveland Cavaliers Tampil Makin Percaya Diri, Final Timur Sudah di Depan Mata
-
Rating Pialang Berjangka Kuartal I Dibuka, Siapa Paling Unggul?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.