Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kesejahteraan Tidak Diukur dari Uang Saat panen, tapi dari Daya Beli Biaya Hidup Petani

📅 Selasa, 14 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Sebagai contoh, Masyhuri menyebut Jepang berhasil meningkatkan daya saing sektor pertaniannya melalui konsolidasi lahan. Di wilayah Hokkaido, rata-rata luas usaha tani yang pada masa pasca-Perang Dunia II sekitar satu hektare kini telah berkembang menjadi sekitar 20 hingga 25 hektare per petani.

“Orang bilang ini sulit, tetapi harus dikerjakan. Kalau tidak, guremisasi akan terus berjalan. Jepang sudah berhasil membuktikannya,” kata Masyhuri.

Di waktu terpisah, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta, menilai pernyataan kalau kesejahteraan petani melonjak sebagai narasi yang tidak sesuai realitas.

“Pernyataan itu mengamini klaim sepihak mengenai lonjakan kesejahteraan petani merupakan contoh nyata dari narasi birokratis yang kehilangan pijakan pada realitas riil di tingkat lapangan,” kata Muliarta

Menurut Muliarta, terjadi distorsi metodologis ketika indikator kesejahteraan petani direduksi hanya pada penurunan harga pupuk subsidi dan kenaikan HPP GKG menjadi 6.500 rupiah per kg.

“Klaim bahwa petani kini sedemikian makmur hingga mampu berlibur ke luar negeri bukan hanya sebuah generalisasi yang cacat logika, melainkan sebuah bentuk pembodohan publik yang mengabaikan penderitaan struktural yang dialami oleh jutaan petani gurem dan buruh tani,” tegasnya.

Harga Turun, Pupuk Langka

Muliarta pun membedah argumen penurunan harga pupuk subsidi. Ia menyebut ketersediaan pupuk pada waktu yang tepat jauh lebih krusial daripada harga nominal.

“Kenyataan di lapangan sering kali menyajikan ironi yang getir akibat sengkarut manajemen rantai pasok. Petani tidak memiliki pilihan selain membeli pupuk nonsubsidi dengan harga melambung ketika kelangkaan terjadi. Kerumitan kartu tani dan pembatasan kuota justru menambah biaya terselubung,” jelasnya.

Selain itu, biaya transportasi dari gudang jauh ke sawah dan hilangnya efisiensi waktu, sudah menghapus keuntungan dari penurunan harga yang diklaim pemerintah. “Sehingga total biaya produksi secara riil tidak pernah benar-benar turun,” ujarnya.

Soal kenaikan HPP gabah 6.500 per kg, Muliarta menyebutnya sebagai "jebakan angka" jika tidak dibarengi analisis Nilai Tukar Petani (NTP) dan inflasi biaya produksi.

“Kenaikan harga jual gabah memicu efek domino berupa kenaikan upah buruh tani. Harga input nonsubsidi seperti pestisida, solar, hingga sewa traktor terus naik. Kesejahteraan tidak diukur dari uang saat panen, melainkan dari daya beli terhadap biaya hidup dan modal kerja,” katanya.

Jika peningkatan harga gabah berada di bawah laju inflasi biaya produksi, maka posisi ekonomi petani justru mengalami kemunduran secara riil.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Mutasi Polri, Pejabat Divpr...
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.