Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Disiplin Fiskal Jadi Ujian Implementasi B50

📅 Senin, 06 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Disiplin Fiskal Jadi Ujian Implementasi B50 Doc: antara
Ket. Implementasi biodiesel 50 persen atau B50 harus memperhatikan disiplin fiskal

Penerapan B50 berisiko menambah beban fiskal bila pendanaan BPDPKS tidak cukup, pungutan ekspor sawit melemah, atau ekspor CPO turun karena kebutuhan domestik meningkat.

JAKARTA – Implementasi biodiesel 50 persen atau B50 harus memperhatikan disiplin fiskal. Pasalnya, peningkatan kebutuhan pendanaan subsidi dapat menjadi beban APBN apabila penerimaan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang kini bertransformasi menjadi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan pungutan ekspor sawit melemah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman menilai implementasi biodiesel 50 persen (B50) penting untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi impor solar, tetapi harus dijalankan dengan disiplin fiskal. “B50 layak secara strategis untuk ketahanan energi, tetapi secara fiskal harus dijalankan dengan disiplin,” kata Rizal di Jakarta, akhir pekan lalu.

Meski berpotensi menghemat devisa hingga 157,28 triliun rupiah pada 2026, Rizal menilai manfaat tersebut tidak otomatis menjadi penghematan APBN karena program B50 tetap memerlukan insentif biodiesel, dukungan dana BPDPKS, serta berisiko menambah beban fiskal jika harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tinggi atau pendanaan dari pungutan ekspor sawit melemah.

“Dalam kondisi itu, beban quasi-fiscal BPDPKS naik dan pada akhirnya bisa menjadi risiko tidak langsung bagi APBN,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan B50 bergantung pada keseimbangan antara penguatan ketahanan energi dan pengelolaan fiskal yang hati-hati melalui evaluasi berkala, transparansi subsidi, serta penetapan harga acuan yang realistis.

Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna meminta pemerintah memaparkan secara transparan perhitungan keekonomian implementasi B50, termasuk manfaat, biaya, dan konsekuensi fiskalnya. Menurutnya, proyeksi penghematan devisa akibat penurunan impor solar harus disertai penjelasan mengenai dukungan pendanaan program, seperti melalui BPDPKS, agar masyarakat memahami keseluruhan skema pembiayaan.

"Pemerintah perlu menjelaskan secara transparan seluruh komponen perhitungan keekonomian B50 agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat dan biaya kebijakan ini," ujar Ateng, Minggu (5/7).

Kesiapan Infrastruktur

Selain itu, Ateng menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur distribusi, pengawasan mutu, serta antisipasi tantangan teknis penggunaan B50. Dia mencatat pemerintah memberikan masa transisi hingga 30 September 2026 bagi badan usaha yang masih memiliki stok B40, sedangkan mulai 1 Oktober 2026 seluruh distribusi solar diwajibkan memenuhi spesifikasi B50.

Dia juga mendorong pemerintah menerapkan kebijakan yang fleksibel, memperkuat standar distribusi dan penyimpanan biodiesel, serta memastikan implementasi B50 mendukung kemandirian energi tanpa mengabaikan keberlanjutan fiskal negara.

"Kemandirian energi harus dibangun melalui kebijakan yang efisien, transparan, dan mempertimbangkan keberlanjutan fiskal sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ungkapnya.

Mansuetus Darto, Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap implementasi B35 dan B40 sebelum memutuskan pemberlakuan B50 secara nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Luar Negeri
Iran Gugat Blokade Maskapai...
Megapolitan
Bekasi Intervensi Pasar unt...
Nasional
Indonesia Dorong Reformasi ...
Luar Negeri
Trump Perkirakan Perundinga...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.