Inovasi Edukasi PHBS Menggunakan Ular Tangga Berbahasa Sunda
Minggu, 05 Jul 2026, 22:58 WIBJakarta - Universitas Indonesia menghadirkan inovasi edukasi pola hidup bersih sehat (PHBS) berbasis budaya melalui permainan ular tangga berbahasa Sunda dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Empowering Children's Health Literacy in Indigenous Community.
Ketua Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Prof Enie Novieastari mengatakan program yang berlangsung pada 12â13 Juni 2026 di Kampung Parakanceuri, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat itu melibatkan mahasiswa internasional dari sembilan negara untuk belajar dan berkolaborasi bersama masyarakat adat dalam meningkatkan literasi kesehatan anak.
"Setiap kotak pada papan permainan memuat pesan-pesan kesehatan yang disampaikan menggunakan bahasa Sunda, sehingga anak-anak dapat belajar melalui bahasa yang akrab dengan kehidupan sehari-hari mereka," kata Enie yang memimpin program tersebut saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Dia menjelaskan, penggunaan media berbasis budaya merupakan bagian dari pendekatan ethno-nursing dan cultural care yang dikembangkan FIK UI. Menurut dia, pesan kesehatan akan lebih efektif dan mudah diterima ketika disampaikan melalui media yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui permainan tersebut, ujarnya, anak-anak diajak memahami dan mempraktikkan enam langkah cuci tangan sesuai standar Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO), cara menyikat gigi yang benar, pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, serta belajar Bahasa Inggris dengan mahasiswa asing.
"Permainan ular tangga berbahasa Sunda menjadi salah satu cara untuk mengintegrasikan promosi kesehatan dengan pelestarian budaya lokal. Di saat yang sama, mahasiswa internasional juga belajar bahwa budaya merupakan bagian penting dalam memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan," katanya.
Dia menilai, kegiatan ini mencerminkan komitmen FIK UI dalam mengembangkan pendidikan keperawatan yang humanis, inklusif, dan berwawasan global melalui pengabdian masyarakat berbasis budaya.
Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, mahasiswa internasional, dan masyarakat adat menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan sekaligus memperkuat pembelajaran lintas budaya.
Salah seorang orang tua peserta, Ibu Yayah, mengungkapkan bahwa anak-anak sangat menikmati proses belajar melalui permainan.
"Anak-anak suka dengan acara edukasi seperti ini. Mereka senang karena bisa belajar bersama. Apalagi kalau ada orang dari luar negeri, jadi bisa belajar Bahasa Inggris sedikit-sedikit," ujarnya.
Salah seorang mahasiswa internasional asal Bangladesh, Md Sajib Raihan menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurut dia, pengalaman tersebut terasa otentik, mendidik, dan penuh kebaruan.
"Selain mengajar, menangkap ikan di kolam setempat, berbagi makanan tradisional yang enak, dan menyelami budaya Sunda yang kaya melalui sejarahnya, tarian, lagu, dan instrumen tradisional membuat saya merasa di rumah," katanya.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekspor Kerajinan Naik 25%! Kemenperin Gaspol Bina 35 Perajin Bambu di Hulu Sungai Selatan
-
Dua Wakil dari Bantul Lolos Seleksi untuk Presiden
-
Awas Terjebak, Hindari 4 Jalur "Neraka" di Malang Saat Libur Panjang Pekan Ini
-
Beijing Desak Washington Cabut Tarif Global
-
Lawan Stigma dengan Sains: Festival Peduli Autisme 2026 Ajak Masyarakat Bangun Ekosistem Inklusif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.