Ekspor Kerajinan Naik 25%! Kemenperin Gaspol Bina 35 Perajin Bambu di Hulu Sungai Selatan

Jumat, 15 Mei 2026, 23:32 WIB

JAKARTA– Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah kerajinan berbasis potensi daerah untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kemenperin mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku lokal ramah lingkungan agar produk kerajinan memiliki daya saing tinggi di pasar domestik maupun ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar untuk dikembangkan menjadi produk kerajinan unggulan bernilai ekonomi tinggi. Penguatan sektor kerajinan dinilai tidak hanya mendongkrak pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah dan mendukung industri berkelanjutan.

Ket. Foto: Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin pada 5-8 Mei 2026 lalu melakukan pendampingan pengembangan sentra IKM kerajinan berbasis bambu di Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan — Sumber: istimewa

“IKM kerajinan Indonesia banyak memanfaatkan sumber daya alam melimpah seperti kayu, rotan, dan bambu. Bahan baku lokal yang diolah menjadi produk kerajinan khas ini memiliki nilai estetika tinggi, sarat cerita budaya, dan bernilai ekonomi besar jika dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan,” ujar Menperin di Jakarta, Rabu (13/5).

Menperin menyebut industri kerajinan merupakan subsektor penting dalam industri pengolahan nonmigas. Berdasarkan data BPS 2025, subsektor ini berkontribusi 2,10% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. 

Kinerja ekspor produk kerajinan pada Februari 2026 juga naik 25,09% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari USD8,27 juta menjadi USD10,34 juta menurut data Pusdatin Kemenperin.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita menyampaikan pengembangan sentra IKM menjadi strategi efektif memperkuat ekonomi kerakyatan di daerah. Pendekatan berbasis sentra memungkinkan pembinaan dilakukan secara terintegrasi dan efisien karena menyasar kelompok pelaku usaha dalam satu ekosistem industri.

“Melalui pembinaan berbasis sentra, struktur ekonomi masyarakat di daerah menjadi lebih kuat. Proses pendampingan juga berjalan lebih efektif karena tidak hanya menyentuh individu, tetapi membangun ekosistem usaha yang saling mendukung,” kata Reni.

Ia menambahkan sentra IKM kerajinan berperan penting menciptakan wirausaha baru dan membuka lapangan kerja luas, sehingga mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan industri kreatif nasional.

Salah satu program yang dijalankan Ditjen IKMA pada 2026 adalah Pendampingan Pengembangan Sentra IKM Kerajinan Berbasis Bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada 5–8 Mei 2026. Program ini bagian dari rangkaian HUT ke-46 Dekranas sekaligus mendukung peningkatan kapasitas, regenerasi perajin, dan daya saing produk kerajinan daerah.

Reni menilai bambu memiliki prospek besar karena ramah lingkungan, cepat tumbuh, dan mudah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Data Kementerian Kehutanan dan LIPI mencatat Indonesia memiliki 162 jenis bambu dengan luas kebun 2,4 juta hektare yang mampu menghasilkan lebih dari 11 juta batang bambu per tahun.

“Kabupaten Hulu Sungai Selatan memiliki kekayaan bahan baku bambu yang melimpah. Potensi ini harus dioptimalkan menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Ia menegaskan pengembangan IKM kerajinan bambu dapat menjadi solusi menghadirkan produk berkualitas sekaligus mendukung industri hijau. Kemenperin juga mengajak pemerintah daerah aktif memanfaatkan potensi bambu menjadi produk berdaya saing dan berorientasi pasar.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menjelaskan sebanyak 35 perajin bambu di Hulu Sungai Selatan mengikuti pendampingan meliputi pelatihan desain produk baru, teknik pengawetan bambu, hingga konsultasi pengemasan modern. Tujuannya meningkatkan kualitas dan daya tarik produk agar lebih diminati konsumen.

“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar,” tutur Budi.

Program ini dijalankan Ditjen IKMA bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Dekranasda setempat. Kolaborasi diharapkan memperkuat kemampuan perajin lokal menghasilkan produk lebih modern, inovatif, dan sesuai kebutuhan pasar.

Hasil diversifikasi produk dari pendampingan juga direncanakan dikolaborasikan dengan IKM dodol khas daerah, khususnya untuk pengembangan desain kemasan dan pengemasan agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Sebagai tindak lanjut, produk hasil pendampingan akan mendapat dukungan promosi melalui pusat oleh-oleh dan kanal pemasaran lain. Produk tersebut direncanakan dipamerkan pada Pameran HUT Dekranas di Makassar dan Pameran Kriyanusa.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para perajin bambu Kabupaten Hulu Sungai Selatan dapat tumbuh menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan industri kerajinan bambu yang sehat, maju, dan mandiri,” tutup Budi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.