El Nino Memanjang, Inflasi Pangan Jadi Ancaman Serius

Rabu, 12 Agu 2026, 00:00 WIB

Kondisi El Nino harus menjadi perhatian serius karena kenaikan inflasi dari sisi pangan dapat langsung menekan daya beli masyarakat sehingga melemahkan konsumsi rumah tangga secara keseluruhan.

JAKARTA – Fenomena El Nino berkepanjangan perlu diwaspadai karena dampaknya dapat merembet dari sektor pertanian ke daya beli masyarakat. Kekeringan ekstrem berpotensi menekan produksi pangan, meningkatkan harga komoditas, sekaligus mengurangi pendapatan kelompok yang bergantung pada sektor pertanian.

Ket. Foto: Bencana El Nino - BMKG Ingatkan El Nino Saat Ini Berada di Kategori Kuat — Sumber: istimewa

Jika tekanan tersebut berlangsung pada kuartal III dan IV tahun ini, konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi berisiko ikut melemah. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat mitigasi pangan, menjaga harga, serta mempertahankan pendapatan masyarakat agar guncangan iklim tidak berubah menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.

Peneliti Ekonomi Core Indonesia, Yusuf Rendi Manilet memperingatkan pemerintah perlu menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai perhatian utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV 2026. Menurut Yusuf, sejumlah faktor berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, dengan inflasi, terutama akibat kenaikan harga pangan, menjadi salah satu risiko paling krusial.

“Risiko tersebut perlu diantisipasi karena El Nino diprediksi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Yusuf di Jakarta, Selasa (11/8).

Dia menilai kondisi El Nino harus menjadi perhatian serius karena jika tidak ditangani, kenaikan inflasi dari sisi pangan dapat langsung menekan daya beli masyarakat dan pada akhirnya melemahkan konsumsi rumah tangga secara keseluruhan.

Selain mitigasi inflasi dan dampak El Nino, Yusuf menekankan perlunya langkah yang lebih fundamental untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Pemerintah perlu mendorong mobilitas ekonomi agar struktur kelas menengah semakin kuat.

“Kelompok yang saat ini masuk kategori calon kelas menengah perlu didorong naik menjadi kelas menengah, sementara kelas menengah harus memiliki peluang meningkatkan status ekonominya,” ujarnya.

Menurut Yusuf, langkah tersebut dapat ditempuh melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas, terutama di sektor formal. Lapangan kerja formal dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan dalam jangka panjang sekaligus memberikan kepastian dan perlindungan bagi pekerja ketika menghadapi guncangan ekonomi, termasuk dampak El Niño dan gejolak harga pangan global.

“Dengan demikian, masyarakat tidak hanya terlindungi dari tekanan inflasi jangka pendek, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian pada masa mendatang,” pungkasnya.

Tantangan Pembangunan

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani menegaskan El Nino merupakan tantangan pembangunan yang berdampak luas terhadap pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, kehutanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. BMKG mencatat El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat.

“Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau lebih kering dan lebih panjang, terutama pada Agustus hingga September,” ujarnya.

Faisal menegaskan bahwa El Nino bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang memperkuat dampak kemarau ketika terjadi bersamaan. Dampaknya antara lain meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pada sektor energi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Sementara itu, Menteri PU Dody Hanggodo melaporkan hingga 5 Agustus 2026, pihaknya menangani kekeringan di 492 lokasi, terdiri dari 105 lokasi sawah untuk menyelamatkan 22.210 hektare dan 387 lokasi permukiman untuk memenuhi kebutuhan air bersih 155.228 jiwa. Dari total tersebut, 442 lokasi telah selesai dan 50 lokasi masih dalam proses.

Terbaru, Kementerian PU menyalurkan 8.000 liter air bersih ke Desa Gunung Batu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menggunakan dua mobil tangki berkapasitas masing-masing 4.000 liter, Selasa (11/8). Selain bantuan darurat, pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang melalui sumber air baku, embung, sumur bor, dan jaringan perpipaan untuk memperkuat ketahanan air menghadapi kemarau.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.