• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lawan Stigma dengan Sains:...

Lawan Stigma dengan Sains: Festival Peduli Autisme 2026 Ajak Masyarakat Bangun Ekosistem Inklusif

Sabtu, 04 Apr 2026, 19:29 WIB

DEPOK - Di tengah meningkatnya jumlah individu dalam spektrum autisme secara global, di mana menurut WHO sekitar 1 dari 127 orang di dunia berada dalam spektrum autisme, tantangan terbesar di Indonesia justru masih terletak pada lingkungan sosial yang belum sepenuhnya siap. Minimnya pemahaman masyarakat, stigma, serta keterbatasan akses terhadap informasi berbasis sains membuat banyak keluarga anak autistik masih menjalani perjalanan ini dalam kesunyian.

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan yang memengaruhi komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, serta interaksi sosial seseorang.  Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga melibatkan peran penting lingkungan di sekitarnya, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan dari ketiga lingkungan ini menjadi kunci agar individu autistik dapat tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal dalam kehidupan sosial.

Ket. Foto: Festival Peduli Autisme 2026 yang diselenggarakan di Pesona Square, Kota Depok, pada hari Sabtu (4/4). Acara ini bertujuan mengedukasi publik mengenai Autism Spectrum Disorder (ASD), melalui pendekatan sains dan inklusivitas, untuk memutus stigma serta memberikan ruang aman bagi individu autistik dan keluarga. — Sumber: Peduli ASD

Berangkat dari realitas tersebut, Peduli ASD menghadirkan Festival Peduli Autisme 2026 hari ini Sabtu (4/4) di Pesona Square, Kota Depok, sebagai bagian dari peringatan World Autism Awareness Day yang jatuh pada tanggal 2 April. Mengusung tema “Bangga Membersamai Autistik: Dari Rumah, ke Sekolah, hingga Masyarakat,” festival ini menjadi ruang edukasi publik berbasis sains yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun pemahaman yang lebih utuh sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih inklusif di Indonesia.

Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan nyata yang dirasakan banyak keluarga. Selama ini banyak keluarga berjalan sendiri dalam memahami autisme.

“Mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri, bahkan sering merasa bersalah. Melalui festival ini, kami ingin membuka ruang belajar bersama agar masyarakat memahami bahwa autism bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Sabtu (4/4).

Ia menambahkan bahwa perubahan menuju masyarakat inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ketika keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan bersama, maka individu autistik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal.

Selain tantangan pada tingkat pemahaman, individu autistik juga menghadapi risiko eksklusi sosial. Sejumlah studi menunjukkan hingga 40% individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak memiliki teman dekat. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh perbedaan dalam memproses komunikasi sosial, seperti memahami ekspresi wajah, emosi, serta membangun komunikasi dua arah yang sering kali disalah artikan oleh lingkungan.

Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) menyampaikan bahwa, tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tetapi pada bagaimana lingkungan memahami mereka. Intervensi yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu autistik.

“Dengan pemahaman medis yang tepat, kita tidak hanya berfokus pada keterbatasan, tetapi juga dapat mengoptimalkan potensi individu autistik melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Maka dari itu, ruang berbagi seperti ini penting agar orang tua tidak merasa sendiri dan mendapatkan pemahaman yang tepat dalam mendampingi anak,” ujarnya pada saat sesi talkshow bertema “Ruang Cerita dan Realita Autisme,” ungkapnya.

Sementara itu, Science Communicator dan Molecular Biologist, Riza Arief Putranto, PhD, DEA, yang hadir sebagai pembicara talkshow membahas “Autisme dan Sains,” menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam memahami autisme secara lebih utuh.

“Autisme bukan sekadar diagnosis, melainkan variasi dalam cara otak bekerja terutama secara biologis. Ketika kita memahami bagaimana individu autistik memproses informasi, maka cara kita berinteraksi pun akan berubah menjadi lebih tepat, lebih empatik, dan lebih inklusif. Pemahaman yang tepat penting untuk bisa membangun interaksi yang lebih relevan dan mendukung kualitas hidup individu autistik,” jelasnya.

Festival Peduli Autisme 2026 dirancang sebagai integrated inclusive experience di ruang publik. Tidak hanya menghadirkan talkshow, festival ini juga membuka ruang interaksi langsung antara Masyarakat dengan individu autistik, keluarga, tenaga kesehatan, dan pendidik.

Rangkaian kegiatan yang diadakan pada acara itu meliputi diskusi mengenai realita keluarga, forum pendidikan inklusif, hingga sesi Autisme dan Sains yang mengulas autisme dari perspektif ilmiah. Selain itu, tersedia layanan skrining dan konsultasi, booth edukasi, serta Sensory Space, yakni ruang multisensori yang dirancang untuk membantu individu autistik mengelola stimulasi sensorik di ruang publik.

Festival ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye literasi autisme yang telah berlangsung sejak akhir 2025. Melalui inisiatif ini, Peduli ASD berharap autisme tidak lagi dipandang sebagai isu individu semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berempati.

  • Festival Peduli Autisme 2026
  • World Autism Awareness Day
  • Peduli ASD
  • Autisme dan Sains
  • Pesona Square Depok
  • Anak Spektrum Autisme
  • Literasi Autisme
  • Sensory Space
  • Dr. Isti Anindya
  • Autism Spectrum Disorder

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.