Rekor Hadiah Wimbledon Tak Redakan Konflik, Petenis Tetap Lanjutkan Protes
Jumat, 26 Jun 2026, 00:03 WIBLONDON â Pihak penyelenggara Wimbledon mengaku terkejut dan kecewa setelah sejumlah petenis papan atas berencana melanjutkan aksi protes terkait pembagian hadiah uang pada turnamen Grand Slam lapangan rumput tersebut.
Kontroversi muncul setelah All England Club mengumumkan total hadiah Wimbledon tahun ini mencapai rekor baru sebesar 64,2 juta poundsterling atau meningkat 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut masih berada di bawah tuntutan para pemain yang meminta total hadiah mencapai 70 juta poundsterling.
Para petenis menilai pembagian pendapatan dari turnamen Grand Slam belum mencerminkan kontribusi mereka. Mereka meminta bagian yang lebih besar dari pemasukan turnamen, sejalan dengan struktur pembagian hadiah yang diterapkan pada sejumlah turnamen ATP dan WTA.
Sebelumnya, para pemain telah melakukan aksi simbolis pada French Open dengan membatasi aktivitas media sebelum turnamen hanya selama 15 menit.
"Wimbledon menempatkan pemain sebagai pusat dari setiap keputusan dan kami terus melakukan investasi besar kepada mereka setiap tahun," kata All England Club dalam pernyataannya.
Penyelenggara juga menegaskan bahwa mereka telah mengeluarkan investasi ratusan juta poundsterling untuk meningkatkan fasilitas pemain melalui program transformasi tiga tahun yang bertujuan menciptakan lingkungan performa kelas dunia.
Hadiah uang Wimbledon tahun ini setara dengan sekitar 15 persen dari pendapatan turnamen. Sementara kelompok pemain yang diwakili mantan CEO WTA, Larry Scott, menuntut minimal 16 persen bagian dari pendapatan tersebut.
Ketua Wimbledon Debbie Jevans sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan Scott mengenai masalah hadiah uang saat French Open berlangsung.
Menurut Jevans, Wimbledon memiliki model berbeda dibandingkan turnamen lainnya karena klub tersebut bersifat nirlaba dan mengembalikan sebagian besar surplus pendapatan untuk pengembangan tenis di Inggris.
"Menggunakan pendapatan sebagai dasar menentukan hadiah uang tidak masuk akal," ujar Jevans. Ia menilai Wimbledon berbeda dengan turnamen reguler atau kategori Masters 1000.
Protes Berlanjut di Wimbledon
Pada Prancis Open, sejumlah nama besar ikut menunjukkan dukungan terhadap aksi tersebut.
Petenis nomor satu dunia putri, Aryna Sabalenka, mempersingkat konferensi pers sebelum turnamen. Sementara beberapa bintang lain seperti Jannik Sinner dan Iga Swiatek juga membatasi waktu berbicara kepada media.
Bahkan, para pemain sempat mengancam kemungkinan melakukan boikot pada masa mendatang jika tuntutan mereka tidak mendapat perhatian.
Menjelang Wimbledon, hari Sabtu yang biasanya menjadi agenda media resmi sebelum turnamen diperkirakan akan menjadi panggung aksi lanjutan. Para pemain berencana membatasi waktu konferensi pers menjadi hanya 15 menit.
Tidak hanya itu, laporan menyebut para pemain juga akan membatasi kewajiban media setelah pertandingan selama pekan pertama turnamen dengan durasi yang sama.
Angka 15 menit tersebut menjadi simbol protes karena merepresentasikan sekitar 15 persen pendapatan Wimbledon yang dialokasikan untuk hadiah uang pemain.
Perselisihan antara pemain dan penyelenggara kini menjadi salah satu isu terbesar menjelang Wimbledon. Turnamen yang selama ini dikenal dengan tradisi dan prestisenya menghadapi tantangan baru dalam hubungan antara atlet dan pengelola.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Keberanian Atletico Diuji Ketajaman Arsenal
-
Barito Utara Pamer Tiga Destinasi Unggulan
-
BIGBANG Comeback! Tur Dunia 20 Tahun Dimulai Agustus dan Album Baru Segera Rilis
-
Cuaca Hari Ini, Mayoritas Kota Besar Diprakirakan Hujan Ringan
-
AS Jamin Timnas Iran Tetap Disambut di Piala Dunia, Wacana Italia Picu Polemik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.