- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kelangkaan Plastik Dorong ...
Kelangkaan Plastik Dorong Harga Pangan Naik
Jumat, 26 Jun 2026, 01:02 WIBSINGAPURA - Konsumen di Asia dilaporkan akan menghadapi tagihan belanja yang lebih tinggi selama beberapa bulan ke depan karena kemasan yang mahal akibat perang Iran. Akibat dari konflik tersebut menyebabkan kekurangan parah bahan plastik yang dibutuhkan untuk mengangkut makanan dari pertanian ke pasar.
Gangguan pasokan plastik telah menyebabkan peningkatan tajam pada biaya pengemasan, yang kini mulai dibebankan oleh beberapa perusahaan kepada konsumen.
Indikator harga pangan global sudah mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, dan kenaikan lebih lanjut berisiko memperparah kesulitan bagi rumah tangga yang juga berjuang menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
Inti dari dampak buruk itu adalah penutupan hampir total Selat Hormuz, yang menghambat aliran energi, sebagian besar menuju Asia, termasuk produk sampingan dari penyulingan minyak yang dikenal sebagai nafta, bahan dasar pembuatan plastik.
Meskipun beberapa kemajuan telah dicapai menuju kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari , pemulihan pasokan ke tingkat sebelum konflik kemungkinan akan membutuhkan waktu.
Di Vietnam, Minh Phu Seafood telah menyaksikan biaya kemasan plastik melonjak sekitar 50 persen sejak perang dimulai, kata Nguyen Hoang Liem, direktur jenderal unit perusahaan yang bertanggung jawab atas perdagangan internasional.
Dikenal secara lokal sebagai Raja Udang, eksportir terbesar di negara itu menanggung biaya yang lebih tinggi dan akhirnya berencana menaikkan harga bagi konsumen.
Sementara Kepala Bagian Keuangan, Farm Fresh Malaysia, Mohd Khairul Mat Hassan mengatakan telah menaikkan harga beberapa produk susu mereka, tepatnya pada bulan Juni atau pertama kalinya sejak tahun 2023.
Gangguan pengemasan tersebut merupakan yang pertama kalinya bagi perusahaan dalam sejarahnya selama 17 tahun dan memaksa grup tersebut untuk menggunakan karton kertas yang lebih kecil sambil berupaya mencari alternatif.
âKetiga pemasok botol plastik kami bergantung pada produsen resin HDPE (polietilen densitas tinggi) yang mendapatkan nafta mereka dari Timur Tengah,â kata Mohd Khairul, menambahkan bahwa preferensi konsumen telah memperburuk masalah tersebut.
âBanyak orang masih menyukai botol plastik, mudah dipegang, lebih kokoh, dan bagi banyak konsumen, profil rasanya lebih baik,â katanya.
Importir nafta utama, Jepang dan Korea Selatan, terpaksa membeli lebih banyak dari negara lain untuk menutupi kekurangan tersebut, sekalipun dengan biaya impor yang lebih tinggi dan berdampak pada produsen regional.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.