Asosiasi: Pasar UMKM Tertekan, Produk Lokal Kalah Bersaing
📅 Senin, 22 Jun 2026, 15:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Tekanan terhadap pasar UMKM menunjukkan masih rapuhnya aktivitas konsumsi masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Melemahnya permintaan membuat banyak pelaku usaha kecil menghadapi penurunan omzet, sementara biaya produksi dan distribusi cenderung meningkat.
Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan UMKM, tetapi juga berpotensi mengurangi kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi lokal.
Oleh karena itu, diperlukan upaya memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing produk, serta memperkuat dukungan pembiayaan agar UMKM mampu bertahan dan berkembang.
Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (AKUMANDIRI) Hermawati Setyorinny menyatakan, market dari pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tertekan dengan barang impor sehingga mereka lebih menghindari pembiayaan perbankan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kenapa UMKM menghindari pembiayaan bank, karena memang marketnya itu berkurang," kata Hermawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (22/6).
Menurut dia, market pelaku UMKM saat ini harus bersaing dengan barang impor yang harganya jauh lebih murah dibandingkan produk dalam negeri milik UMKM.
Untuk itu, para pelaku UMKM lanjut Hermawati lebih memilih menggunakan dana pribadi dibandingkan dari perbankan, mengingat ketika menggunakan pembiayaan dari eksternal akan memiliki risiko cukup tinggi ketika gagal bayar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan, barang impor yang bersaing dengan UMKM terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga menjadi tantangan terbesar bagi industri kecil.
"Laju produk impor yang masuk ke Indonesia terus bertambah besar selama ini. Tidak ada pencegahan atau rem barang-barang impor yang memang UMKM memproduksi," ujarnya.
Hermawati berharap negara dapat membantu agar produk UMKM tidak bersaing dengan produk impor yang memang biaya produksi jauh lebih murah.
Ia mengatakan, untuk negara lain produk UMKM-nya dilindungi, di mana ketika ada produk dalam negeri maka produk impor akan dibanderol dengan harga lebih mahal, selain itu ketika ada produk lokal negara juga tidak mengizinkan impor barang serupa.
"Kalau di luar negeri itu produk impor yang masuk harganya lebih mahal daripada produk lokal," katanya.
Selain itu banyak kendala yang dihadapi pelaku UMKM ketika ingin mengembangkan usahanya dengan mengajukan pembiayaan kepada perbankan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!