Pelatihan Gamelan Audio Kinestetik untuk Pelajar Tunanetra di Tulungagung
Jumat, 19 Jun 2026, 17:55 WIBTulungagung - Sejumlah pelajar penyandang disabilitas tunanetra di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Jumat mengikuti pelatihan alat musik gamelan berbasis audio kinestetik sebagai upaya memperluas akses kelompok inklusif terhadap seni dan budaya tradisional.
Pelatih gamelan, Aulia Renata mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dirancang khusus untuk membantu pelajar tunanetra mengenal sekaligus memainkan alat musik tradisional Jawa.
"Kami mengembangkan metode pembelajaran berbasis audio kinestetik dengan memanfaatkan kepekaan pendengaran dan perabaan yang dimiliki peserta," katanya.
Ada tujuh siswa difabel yang mengikuti kegiatan atau program pelatihan itu. Semuanya penyandang disabilitas penglihatan tunanetra, namun memiliki bakat dan semangat dalam belajar berkesenian.
Menurut dia, selama ini sebagian besar pelajar tunanetra lebih akrab dengan instrumen musik modern, seperti gitar, piano dan drum.
Karena itu, pelatihan gamelan diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan seni tradisional sekaligus menumbuhkan minat terhadap budaya lokal.
Dalam pelaksanaannya, peserta terlebih dahulu diajak mengenali bentuk fisik berbagai instrumen gamelan melalui metode sensorik taktil atau perabaan, mulai dari kendang, saron, demung, kenong, bonang, gong hingga kempul.
Setelah mengenali bentuk alat musik, peserta kemudian mempelajari karakter bunyi dan nada yang dihasilkan masing-masing instrumen.
Untuk memudahkan proses pembelajaran, pada alat musik saron dan demung dipasang penanda huruf braille sebagai panduan mengenali titinada.
"Kami memberikan tanda braille pada beberapa instrumen agar peserta lebih mudah memahami posisi nada saat bermain gamelan," ujarnya.
Aulia menjelaskan meskipun baru mengikuti pelatihan dasar selama sekitar satu jam, para peserta sudah mampu memainkan sejumlah instrumen secara bersama-sama dan menghasilkan harmoni sederhana.
Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan mengembangkan kemampuan di bidang seni budaya apabila didukung metode pembelajaran yang sesuai.
Pelatihan tersebut diharapkan menjadi salah satu sarana pelestarian budaya sekaligus mendorong terwujudnya ruang berkesenian yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Swiatek Singkirkan Muchova, Melaju ke Perempat Final Indian Wells
-
Pemerintah Genjot Swasembada Gula agar Tak Impor Lagi
-
Lewat PPSDMPU, BPSDMP Perkuat Reputasi Indonesia di Dunia Penerbangan Melalui ICAO Trainair Plus Re-Assessment 2025
-
Mendikdasmen Tekankan Tiga Poin Pembatasaan Penggunaan Medsos bagi Anak
-
Unpatti Perkuat Riset Kelautan dan Perikanan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.