Kredibilitas Fiskal Dipertaruhkan, Ekonom Ingatkan Risiko Biaya Utang Melonjak

Jumat, 19 Jun 2026, 22:10 WIB

JAKARTA – Menjaga kredibilitas fiskal merupakan fondasi penting dalam memastikan stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan keuangan negara.

Kredibilitas yang kuat tercermin dari disiplin anggaran, transparansi kebijakan fiskal, serta kemampuan pemerintah menjaga defisit dan utang pada tingkat yang berkelanjutan.

Ket. Foto: Ilustrasi - Konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Bayu Saputra.

Hal ini tidak hanya memengaruhi persepsi investor, tetapi juga menentukan biaya pembiayaan dan ruang fiskal untuk mendukung pembangunan.

Dalam jangka panjang, kredibilitas fiskal yang terjaga akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap guncangan eksternal dan meningkatkan daya saing ekonomi secara keseluruhan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal untuk menekan biaya utang dan menjaga keberlanjutan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kenaikan BI Rate maupun berbagai perkembangan di pasar keuangan global hanya dapat meredakan tekanan dalam jangka pendek. Pada akhirnya, premi risiko yang diminta investor sangat dipengaruhi oleh keyakinan mereka terhadap kondisi fiskal Indonesia,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurut Yusuf, pemerintah menghadapi situasi di mana investor meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi untuk membeli Surat Utang Negara (SUN). Minat pada lelang SUN juga cenderung melemah dibandingkan periode sebelumnya, sehingga biaya pendanaan berpotensi meningkat.

Investor asing sempat mencatat arus keluar pada kuartal pertama mulai kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. Namun, sebagian besar dana asing tersebut masih terkonsentrasi pada instrumen berjangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

“Ini menunjukkan bahwa likuiditas masih tersedia, tetapi biaya dana meningkat dan preferensi investor bergeser ke tenor yang lebih pendek,” imbuhnya.

Dalam menghadapi situasi tersebut, lanjut Yusuf, pemerintah perlu mempertahankan strategi pembiayaan yang aktif dan fleksibel.

Pemerintah dinilai tak perlu memaksakan penyerapan dana melalui lelang ketika permintaan rendah dan yield yang diminta investor dinilai terlalu mahal. Sebaliknya, penerbitan surat utang dapat dioptimalkan pada saat kondisi pasar lebih kondusif sehingga biaya pembiayaan dapat ditekan.

Diversifikasi sumber pembiayaan juga dinilai penting. Selain mengandalkan penerbitan SUN konvensional, pemerintah dapat memanfaatkan instrumen SBN ritel untuk menyerap dana investor domestik.

Penerbitan obligasi valas juga masih berpotensi menjadi alternatif karena tetap mendapat respons positif dari investor global.

Di sisi lain, pengelolaan profil jatuh tempo utang perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi konsentrasi pembayaran pada periode tertentu yang dapat meningkatkan risiko pembiayaan di masa mendatang.

“Ketersediaan bantalan kas serta koordinasi yang erat dengan Bank Indonesia juga diperlukan agar pemerintah memiliki ruang untuk memilih waktu pembiayaan yang paling efisien,” ujar Yusuf menambahkan.

Meski demikian, Yusuf menggarisbawahi, faktor yang paling menentukan dalam menjaga biaya pembiayaan tetap terkendali adalah kredibilitas kebijakan fiskal.

Kenaikan suku bunga acuan maupun perubahan kondisi pasar global hanya memberikan pengaruh jangka pendek. Dalam jangka lebih panjang, besaran premi risiko yang diminta investor sangat dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kesehatan fiskal Indonesia.

Kekhawatiran mengenai pelebaran defisit anggaran, lemahnya penerimaan negara, maupun prospek fiskal ke depan dapat mendorong investor meminta yield yang lebih tinggi.

Karena itu, Yusuf berpendapat langkah paling efektif untuk menekan biaya utang bukan sekadar menambah penerbitan surat utang, melainkan menjaga disiplin fiskal, memastikan target penerimaan negara tercapai, mempertahankan status investment grade, serta memperkuat tata kelola dan transparansi pasar keuangan.

“Dengan demikian, pemerintah akan memiliki ruang yang lebih besar untuk membiayai defisit APBN secara berkelanjutan meskipun ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung,” tuturnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Sistem Subak Bali Jadi Contoh Global Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan

Kendala Distribusi Bantuan Warga Pulau Palue Pascagempa akibat Jalan Antardesa Terputus

Pedagang Kembali Berjualan di Pasar Tradisional Pascagempa NTT

Cukai Emisi Kendaraan Bebani Kelas Menengah Bawah

Ketahanan Pangan Bisa Tekan Kriminalitas? Ini Kata Gubernur Jawa Barat

Kemenhub Sebut BRT Mebidang Upaya Pemerintah Bangun Transportasi Perkotaan

NTT Kembali Diguncang Gempa M 5,7 pada Rabu Malam, Ini Informasinya

Karya Modifikator Indonesia Bakal Ditampilkan di SEMA Show 2026 Las Vegas

Gila! Pegolf Maroko Laguirati Pecahkan Rekor Lapangan di Indonesia Pro-Am 2026

BMKG Prakirakan Cuaca di Mayoritas Kota Besar pada Kamis (20/8), Berawan

5 Dialek Sunda, dari Priangan hingga Betawi Menggema saat Pembacaan Sejarah HUT Jawa Barat ke-81

Tijjani Reijnders Gabung Klub Arab Saudi, Al Qadsiah

Keren Bikin Bangga! Karya Modifikator Indonesia Bakal Mejeng di SEMA Show 2026

Industri Modifikasi Otomotif Jadi Ladang Ekraf Baru, Menekraf Dorong Jadi Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Sampah Plastik Jadi Cuan! Pemkot Bima Kembangkan Nilai Ekonomi Lewat Gerakan Ini

Sembilan Perempuan Disandera di Jila, Mimika oleh KKB

Film Jason Statham ‘Mutiny’ Sempat Bocor di Amazon Prime Sebelum Tayang di Bioskop

Layanan Rail Library KAI untuk Meningkatkan Minat Baca dan Pengetahuan Masyarakat

Petugas Upacara HUT Ke-81 RI Diundang Presiden Prabowo ke Hambalang

Kejutan untuk Petugas Upacara HUT Ke-81 RI! Prabowo Undang Mereka ke Hambalang

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.