Pemkab Kotawaringin Timur Evaluasi Distribusi Minyakita agar Tidak Sebabkan Inflasi
📅 Sabtu, 13 Jun 2026, 10:45 WIB | Oleh: Tim PenulisKOTAWARINGIN TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengevaluasi alur distribusi Minyakita agar harga stabil dan tidak menyebabkan inflasi daerah yang tinggi.
“Kami langsung datang ke produsen terbesar Minyakita di Kotim yang ada di Bagendang dan untuk stok itu dikatakan aman. Tetapi yang saya pertanyakan karena Kotim ini adalah kabupaten penghasil sawit terbesar, namun bagaimana bisa minyak goreng menjadi penyumbang inflasi di daerah ini,” kata Wakil Bupati Kotim Irawati di Sampit, Sabtu (13/6).
Wakil Bupati bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke produsen terbesar Minyakita guna memastikan ketersediaan sekaligus mengurai masalah yang memicu kenaikan harga Minyakita di daerah tersebut.
Pihaknya mendatangi pabrik pengolahan minyak goreng di kawasan Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Pemerintah daerah mencatat inflasi di Kotim saat ini berada di angka 4,18 persen. Angka yang dinilai cukup tinggi, bahkan menempatkan wilayah ini di posisi ke-20 nasional.
Berdasarkan temuannya, Irawati menyebut persoalan utama bukan terletak pada kelangkaan pasokan dari pihak produsen, melainkan pada tata cara penyaluran di lapangan yang dinilai terlalu panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rantai distribusi yang memiliki terlalu banyak tempat singgah menyebabkan harga di tingkat pedagang melonjak dan hal ini berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat dan memicu inflasi.
“Ternyata setelah kami lakukan sidak lapangan, ini berkaitan dengan cara penyalurannya.Makanya saya bilang agar penyalurannya jangan sampai terlalu banyak tempat singgahnya. Kalau memang produsen ini menyalurkannya ke Bulog, ya langsung saja. Begitu pula Bulog ke mitranya,” tutur Irawati.
Ia juga mengungkap pengurangan jatah Minyakita yang diterima oleh para mitra Bulog di lapangan menjadi salah satu pemicu kenaikan harga di pasar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk diketahui HET MinyaKita adalah Rp15.700 per liter, namun di pasaran di wilayah Kotim didapati yang melebihi HET, ada yang Rp17 ribu per liter bahkan hingga Rp21 ribu per liter.
Para mitra Bulog yang sebelumnya biasa mendapat pasokan sebanyak 50 dus dalam sekali pengiriman, kini dipangkas dan hanya menerima sebanyak 20 dus saja. Kondisi ini dinilai sebagai kelangkaan dan pedagang pun mulai menaikkan harga.
“Karena harga tinggi otomatis daya beli masyarakat menurun itulah menyebabkan inflasi di daerah kita,” tambahnya.
Pemerintah daerah menegaskan segera menggelar rapat koordinasi bersama Bulog guna mengevaluasi hasil sidak dan mengatur ulang sistem pendistribusian kepada mitra resmi.
Sementara itu, pihak produsen Minyakita memberikan penjelasan mengenai kondisi riil proses produksi minyak goreng yang disalurkan ke masyarakat saat ini.
Manajer PT Suka Jadi Julhendro menjelaskan proses pendistribusian dari pabrik sejauh ini berjalan lancar meskipun ada penyesuaian volume produksi dari pihak perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!