Pasar Modal Makin Bergairah, Tiga Calon Emiten Siap Melantai di BEI

Selasa, 09 Jun 2026, 14:50 WIB

JAKARTA – Penawaran saham perdana (IPO) menjadi salah satu langkah strategis perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan jangka panjang guna mendukung ekspansi usaha, memperkuat struktur permodalan, dan meningkatkan daya saing.

Selain membuka akses terhadap modal yang lebih besar, IPO juga mendorong perusahaan menerapkan tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.

Ket. Foto: Ilustrasi - Karyawan berjalan dengan latar belakang layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar.

Namun, keberhasilan IPO sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar, prospek bisnis, serta tingkat kepercayaan investor terhadap kinerja dan strategi pertumbuhan perusahaan di masa depan.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan tiga perusahaan yang berada dalam antrean (pipeline), akan melangsungkan initial public offering (IPO) pada akhir Juni atau awal Juli 2026.

Ketiga perusahaan tersebut terdiri atas satu perusahaan sektor barang konsumen primer, serta dua perusahaan sektor kesehatan.

"Terdapat, satu perusahaan di sektor consumer non-cyclicas yang sudah mendapatkan persetujuan prinsip bursa, dan dua perusahaan di bidang healthcare berpotensi besar untuk mendapatkan persetujuan prinsip bursa di bulan ini juga. Ketiganya berencana akan dicatatkan di akhir Juni atau awal Juli 2026," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna kepada awak media di Jakarta, Selasa (9/6).

BEI mengungkapkan secara total terdapat dua belas perusahaan berada dalam antrean IPO per 5 Juni 2025.

Sementara itu, untuk sembilan emiten lainnya, Nyoman mengungkapkan statusnya masih dalam proses evaluasi dan penelaahan dokumen.

Total sebanyak 12 perusahaan dalam antrean IPO per 5 Juni 2026 tersebut, berkurang dibandingkan antrean sebanyak 15 perusahaan dalam laporan BEI sebelumnya per 22 Mei 2026.

Dari tiga perusahaan yang membatalkan, Nyoman mengungkapkan terdapat yang melakukan revisi laporan keuangan (LK), membutuhkan kelengkapan dokumen, serta terdapat yang belum disetujui.

"Ada yang revisi laporan keuangan menggunakan LK terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui," ungkap Nyoman.

Sepanjang tahun ini terhitung sampai 5 Juni 2026, telah terdapat satu perusahaan yang melangsungkan IPO di pasar modal Indonesia.

Dengan demikian, total perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 957 perusahaan sampai saat ini.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.