Surplus Perdagangan Menyusut, Ruang Penopang Pertumbuhan Ekonomi Semakin Terbatas
📅 Jumat, 05 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Sistem perbankan lebih sehat, rasio kecukupan modal lebih tinggi, pengawasan sektor keuangan lebih baik, dan cadangan devisa masih cukup memadai untuk menutup kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri jangka pendek,” jelasnya.
Namun demikian, Mudrajad meminta pemerintah tidak lengah. Ia mengingatkan adanya kombinasi tiga tekanan yang berpotensi muncul secara bersamaan atau yang ia sebut sebagai triple pressure.
Tekanan pertama adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level 18.000 per dollar AS. Tekanan kedua adalah potensi pelebaran defisit transaksi berjalan apabila konflik geopolitik dan kenaikan harga energi berlanjut sementara Indonesia masih bergantung pada impor migas. Sedangkan tekanan ketiga adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Kalau ketiganya terjadi secara bersamaan, maka tekanan terhadap APBN, dunia usaha, dan kesejahteraan masyarakat akan semakin besar,” kata Mudrajad.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, ia menilai upaya menjaga stabilitas rupiah oleh Bank Indonesia harus dibarengi langkah strategis pemerintah pusat maupun daerah dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Langkah tersebut antara lain melalui percepatan transisi energi, pengembangan biofuel, peningkatan lifting migas domestik, serta investasi yang lebih besar pada energi terbarukan.
“Tanpa langkah strategis itu, defisit transaksi berjalan akibat impor migas akan terus menjadi gangguan bagi ekonomi nasional dan menjadi ancaman yang tidak bisa kita abaikan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa sepakat bahwa impor migas menjadi biang kerok defisit dan cadangan devisa terpangkas Q1-2026.
Fabby pun setuju bahwa tekanan eksternal saat ini sangat berat untuk Indonesia yang statusnya masih net-oil importer atau pengimpor minyak bersih.
Masalah semakin kompleks karena kebijakan Pemerintah yang menyerap seluruh produksi minyak mentah nasional untuk kebutuhan dalam negeri. Kebijakan itu memang menjaga ketahanan energi, tapi sekaligus menghilangkan sumber devisa dari ekspor migas.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti memperkirakan titik rawan akibat lonjakan impor migas dan bahan baku, ditambah pelemahan harga komoditas ekspor utama akan terjadi pada Juli mendatang.
Menurut Esther, menyusutnya surplus perdagangan secara signifikan sudah mulai menekan ketahanan eksternal Indonesia dan memicu kewaspadaan terhadap risiko defisit transaksi berjalan yang lebih luas.
“Indonesia berpotensi mengalami defisit neraca perdagangan Juli 2026 akibat lonjakan impor migas dan bahan baku, serta tren pelemahan harga komoditas ekspor. Apalagi menyusutnya surplus perdagangan secara signifikan, ketahanan eksternal mulai tertekan dan memicu kewaspadaan terhadap risiko defisit,” kata Esther.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!