Mencari “Yesus yang Tersamar”, 35 Tahun Sinta Hidayat Melayani Pemulung dan Tunawisma Jakarta
Jumat, 05 Jun 2026, 15:48 WIB | Oleh: Henri pelupessyTabungan tersebut juga kerap menjadi penyelamat ketika anggota keluarga mereka sakit atau ketika anak-anak membutuhkan biaya sekolah.
"Kalau untuk makan sehari-hari biasanya mereka masih bisa bertahan. Tapi ketika ada anggota keluarga sakit, mereka kesulitan karena tidak punya uang cadangan," ujarnya.
Menularkan Semangat
Pelayanan Sinta tidak berhenti pada masyarakat miskin. Ia juga berusaha menanamkan nilai kepedulian kepada generasi muda.
Di Wisma Sahabat Yesus, Margonda, Depok, ia secara rutin mendampingi mahasiswa dari berbagai daerah untuk terlibat langsung dalam kegiatan pelayanan.
Dua kali setiap bulan, para mahasiswa diajak membagikan makanan gratis kepada masyarakat, termasuk para pengemudi ojek online yang melintas di sekitar lokasi.
Menurut Sinta, pengalaman bertemu langsung dengan orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sering kali mengubah cara pandang para mahasiswa.
Mereka mendengar kisah pengemudi ojek yang tetap bekerja meski mengalami keterbatasan fisik, atau pasangan suami istri yang harus bekerja bersama demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Cerita-cerita sederhana itu, kata Sinta, membantu anak-anak muda belajar bersyukur dan menghargai perjuangan orang tua mereka.
"Banyak mahasiswa yang akhirnya sadar bahwa mereka masih beruntung bisa kuliah. Mereka jadi lebih bersyukur dan lebih serius belajar," katanya.
Kasih yang Terus Menyala
Lebih dari 35 tahun berlalu sejak langkah pelayanan itu dimulai. Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk penolakan dan intimidasi, Sinta tetap memilih hadir setiap Senin untuk mereka yang membutuhkan.
Baginya, pelayanan bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk melihat martabat manusia dalam diri setiap orang.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, ketika banyak orang berlalu tanpa sempat menoleh, Sinta Hidayat terus berjalan mencari "Yesus yang tersamar"—dalam diri pemulung, pengemis, tunawisma, dan siapa saja yang membutuhkan uluran kasih.
Sebuah pelayanan sederhana yang membuktikan bahwa cinta dapat tetap menyala, bahkan setelah lebih dari tiga dekade.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!