Tailan Siap untuk Mediasi PBB Terkait Sengketa Maritim dengan Kamboja
📅 Kamis, 04 Jun 2026, 02:45 WIB | Oleh: Berbagai Sumber
Doc: AFP/Agence Kampuchea Press
BANGKOK - Tailan menyatakan sepenuhnya siap untuk terlibat dalam mediasi yang didukung PBB yang diprakarsai oleh Kamboja terkait klaim maritim yang dipersengketakan. Penegasan itu dilontarkan oleh menteri luar negeri Tailan pada Rabu (3/6) seraya menegaskan janji untuk melindungi kepentingan nasional.
Kamboja, negara tetangga Tailan, pada Selasa (2/6) mengatakan telah memulai proses penyelesaian sengketa berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) terkait wilayah sengketa di Teluk Tailan, di mana cadangan energi bawah laut diperkirakan bernilai sekitar USD300 miliar.
Langkah ini menyusul pembatalan perjanjian tahun 2001 secara sepihak oleh Bangkok bulan lalu yang menetapkan kerangka kerja untuk eksplorasi minyak dan gas bersama di wilayah klaim yang tumpang tindih atau Nota Kesepahaman (MoU) 44 tahun 2001, dengan perdana menteri Tailan menyebutkan alasan kebuntuan yang telah berlangsung lama dalam pelaksanaannya atas pembatalan tersebut.
Menteri Luar Negeri Tailan, Sihasak Phuangketkeow, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu bahwa keputusan terburu-buru Kamboja untuk memulai proses konsiliasi wajib berdasarkan UNCLOS dapat menghambat upaya untuk membangun kembali kepercayaan dan keyakinan menuju pemulihan hubungan bilateral.
Kedua negara tetangga di Asia tenggara ini telah bersengketa mengenai wilayah maritim dan penetapan batas darat sepanjang 800 kilometer selama beberapa dekade, sebuah warisan dari era kolonial Prancis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah dua putaran bentrokan perbatasan mematikan tahun lalu, kedua pihak sepakat untuk gencatan senjata pada bulan Desember lalu, tetapi berulang kali saling menuduh melanggar gencatan senjata.
"Tailan sepenuhnya siap untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan sesuai dengan UNCLOS, dengan mengutamakan perlindungan kepentingan negara," kata Menlu Sihasak dalam pernyataan tersebut.
Kedua negara tersebut merupakan pihak dalam konvensi tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut pernyataan Tailan, proses mediasi menghasilkan rekomendasi yang tidak mengikat secara hukum bagi para pihak untuk digunakan dalam negosiasi penyelesaian.
Kementerian Energi Tailan memperkirakan pendapatan masa depan dari minyak dan gas alam di wilayah tersebut bernilai sekitar USD300 miliar.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengatakan pada Selasa bahwa pemerintahnya telah memulai proses mediasi untuk melindungi kedaulatan dan hak maritim Kamboja sesuai dengan hukum internasional.
Tidak Khawatir
Menanggapi langkah yang diambil Kamboja, PM Tailan, Anutin Charnvirakul, menepis kekhawatiran atas upaya Phnom Penh.
“Tailan tidak khawatir menghadapi tekanan apapun dari komunitas internasional terkait sengketa tersebut dan mencatat bahwa pertemuan-pertemuan baru-baru ini dengan para pemimpin asing dan organisasi internasional telah berlangsung tanpa mengangkat isu tersebut,” kata PM Anutin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!