- Home
-
- Luar Negeri
-
- Perayaan Juara PSG Berujun...
Perayaan Juara PSG Berujung Ricuh, 200 Orang Terluka dan Satu Tewas di Paris
Senin, 01 Jun 2026, 05:45 WIBPARIS - Lebih dari 200 orang terluka dan satu orang meninggal dunia di Paris setelah kemenangan kedua berturut-turut Paris Saint-Germain (PSG) di Liga Champions, menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis pada Minggu (31/5). Peristiwa itu kembali memicu perdebatan panas di Prancis mengenai kekerasan jalanan.
Dilansir dari The Straits Times, sehari setelah PSG mengalahkan Arsenal melalui adu penalti yang menegangkan di Budapest dan mengukuhkan posisi mereka di puncak sepak bola Eropa, para penggemar memadati area terbuka Champ de Mars di dekat Menara Eiffel untuk menyambut para pemain yang mengikuti parade kemenangan pada Minggu sore.
Namun, seperti yang terjadi tahun lalu, perayaan tersebut sebagian ternoda oleh aksi kekerasan yang terjadi sepanjang malam setelah pertandingan. Sebanyak 57 polisi mengalami luka-luka di Paris dan lebih dari 400 orang ditahan, sebagian di antaranya berada di luar ibu kota, menurut pihak berwenang.
Polisi melaporkan sejumlah toko mengalami kerusakan akibat vandalisme. Para perusuh juga membakar mobil serta stasiun sepeda sewaan di beberapa lokasi.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengatakan aksi perusakan juga terjadi terhadap sejumlah bangunan publik di kota-kota lain seperti Orleans.
Meski demikian, polisi bukan menjadi sasaran utama dalam sebagian besar insiden. Namun, sebuah kantor polisi di pusat kota Paris sempat menjadi lokasi bentrokan singkat pada Sabtu malam.
Kantor Kejaksaan Paris menyatakan seorang pria muda meninggal dunia akibat kecelakaan sepeda motor yang terjadi di tengah kerusuhan tersebut.
Nunez, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Paris, memimpin operasi pengamanan besar yang melibatkan lebih dari 20.000 personel. Ia menilai aparat berhasil mengendalikan situasi.
"Secara keseluruhan, situasi berada dalam kendali," ujarnya.
Peristiwa ini langsung dimanfaatkan oleh para politikus dari partai sayap kanan National Rally, yang saat ini memimpin berbagai survei menjelang pemilihan presiden tahun depan, untuk kembali menyerukan kebijakan keamanan dan ketertiban yang lebih tegas.
Pemimpin partai tersebut, Marine Le Pen, mengatakan, "Hanya di Prancis kemenangan sebuah klub sepak bola bisa memicu kerusuhan."
Namun, sejumlah pihak lain menilai kekerasan yang berulang tersebut mencerminkan persoalan sosial yang lebih dalam dan tidak mewakili budaya suporter sepak bola secara umum.
Politikus kiri-tengah Prancis, Raphael Glucksmann, yang tengah mempertimbangkan maju dalam pemilihan presiden, mengatakan bahwa masyarakat Prancis saat ini sedang berada dalam tekanan besar.
"Prancis hidup dalam ketegangan. Masyarakat menjadi semakin brutal. Kita seperti panci bertekanan yang siap meledak kapan saja," katanya.
Tahun lalu, perayaan kemenangan pertama PSG di Liga Champions juga diwarnai kekacauan serupa yang menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Andes
Berita Terkait:
-
Manajemen Persib Bandung Desak Aparat Usut Tuntas Penyerangan Rombongan U18 di Batang
-
Jumilah Joss Tenan Tangani 870 Kilogram Sampah Plastik Residu per Hari
-
MURI: Tradisi Minum "Kopi Khop" Aceh Barat Layak Jadi Rekor Dunia
-
Bukan Sekadar Ajang Ganteng dan Cantik, Bupati Bangkalan Perintahkan OPD Wajib Pakai Duta Wisata
-
Boccia Sumbang Tiga Medali Emas untuk Indonesia di Asian Para Games 2026
-
Kerusuhan Meletus di Prancis, 1.200 Orang Ditangkap, 150 Polisi Terluka
-
Pasokan Listrik Batam Sudah Pulih, Blackout Diduga Akibat Gangguan Hewan Liar di Gardu Induk
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.