RI Harus Jadi “Technology Maker” Bukan Hanya “Resource Provider”

Kamis, 13 Agu 2026, 03:10 WIB

JAKARTA - Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi pada ketersediaan sumber daya mineral, melainkan kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur. Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) Is Prima Nanda mengungkapkan pentingnya kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dalam hilirisasi mineral.

“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya. Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi,” kata Is Prima Nanda dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8).

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sepakat bahwa membangun rantai pasok mineral terintegrasi di Indonesia adalah langkah ambisius untuk menjadikan Indonesia pusat manufaktur teknologi tinggi global, bukan sekadar pengekspor komoditas. — Sumber: istimewa

Material sebutnya merupakan fondasi dari hampir seluruh teknologi. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah hingga mineral kritis lainnya, baru akan memberikan nilai tambah lebih besar, apabila dapat direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa tertentu.

Material tersebut dapat menjadi fondasi berbagai teknologi strategis, mulai dari baterai, kendaraan listrik, elektronik, energi bersih, industri pertahanan hingga sektor dirgantara. “Kalau kita hanya menguasai sumber dayanya, kita tetap bergantung pada pihak lain untuk teknologi dan produk akhirnya. Sebaliknya, jika kita menguasai material sekaligus teknologinya, kita memiliki peluang menjadi technology maker, bukan hanya resource provider,” katanya.

Diminta terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sepakat bahwa membangun rantai pasok mineral terintegrasi di Indonesia adalah langkah ambisius untuk menjadikan Indonesia pusat manufaktur teknologi tinggi global, bukan sekadar pengekspor komoditas.

Lompatan itu kata Fabby dihadapkan pada empat tantangan spesifik yang harus dijawab. Pertama, kesenjangan teknologi. “Terbatasnya penguasaan teknologi tingkat lanjut seperti High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk pengolahan nikel atau teknologi pemurnian silika untuk silikon serta lambatnya transfer teknologi dari investor asing,” kata Fabby.

Kedua, standar lingkungan atau ESG. Ketatnya regulasi pasar global menuntut proses ekstraksi dan pemurnian dengan jejak karbon rendah dan dapat dilacak secara transparan. Sementara itu, ekspansi tambang saat ini masih membawa dampak ekologis yang signifikan.

Ketiga, evolusi teknologi. Fabby menyoroti ancaman pergeseran tren teknologi global. “Misalnya teknologi baterai global menuju Lithium Iron Phosphate (LFP) atau Sodium-ion yang mengurangi ketergantungan pada nikel,” katanya.

Keempat, validasi cadangan. Banyak potensi mineral esensial lainnya seperti Logam Tanah Jarang dan tembaga yang statusnya masih sumber daya, belum menjadi cadangan terbukti.

Meski tantangannya besar, Fabby menilai jika rantai nilai terintegrasi ini berhasil dibangun, dampaknya akan krusial bagi Indonesia dalam jangka panjang.

“Ini akan mendorong pertumbuhan industri maju domestik, meningkatkan ekonomi lokal dan nasional, mempercepat transisi energi masif, menciptakan resiliensi fiskal, serta meningkatkan daya tawar geopolitik Indonesia sebagai hub manufaktur esensial di rantai pasok global,” tutup Fabby.

Kapabilitas Teknologi

Sementara itu, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma sepakat bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada ekspor produk setengah jadi.

“Hilirisasi mineral tidak boleh berhenti pada ekspor produk setengah jadi atau sekadar memindahkan pabrik pemurnian ke dalam negeri,” kata Surya Darma.

Menurutnya, tantangan sejati Indonesia saat ini adalah membangun kapabilitas teknologi dan rantai nilai dari hulu ke hilir.

“Termasuk rekayasa material advance yang dibutuhkan untuk teknologi masa depan,” ujarnya.

Surya pun memberikan catatan kritis. Ia menegaskan hilirisasi bernilai tinggi harus berjalan selaras dengan transisi energi bersih.

“Sangat kontradiktif jika kita membangun industri rekayasa material bernilai tinggi seperti komponen baterai atau kendaraan listrik, tetapi proses pengolahannya masih sangat bergantung pada energi fosil yang kotor,” tegas Surya.

  • Hilirisasi Produk

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.