Perubahan Iklim Picu Resistensi Antibiotik

Kamis, 28 Mei 2026, 01:00 WIB

LONDON – Perubahan iklim disebut berkaitan dengan peningkatan global gen resistensi antibiotik pada bakteri Salmonella hingga sekitar 10 persen, menurut penelitian baru yang menunjukkan bahwa kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat mempercepat penyebaran infeksi yang sulit diobati.

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari berbagai lembaga, termasuk Chinese Academy of Sciences dan University of Cambridge, itu menganalisis lebih dari 480.000 genom Salmonella dari 139 negara dalam periode 1940 hingga 2023. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Planetary Health menemukan bahwa suhu dan curah hujan memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan gen resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance genes (ARG) di berbagai wilayah dunia.

Ket. Foto: Bakteri Salmonella — Sumber: istimewa

Meski Salmonella menjadi salah satu penyebab utama penyakit diare dengan puluhan juta kasus setiap tahun, resistensi antimikroba (AMR) umumnya dipicu oleh penggunaan dan penyalahgunaan antibiotik yang berlebihan, sehingga memungkinkan bakteri resisten bertahan dan berkembang.

Namun demikian, studi tersebut menegaskan bahwa faktor iklim juga berperan dalam membentuk evolusi dan penyebaran resistensi bakteri di lingkungan. Suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan pertukaran gen, sementara banjir ekstrem mempercepat penyebaran ARG melalui sistem air. Di sisi lain, kekeringan dapat memusatkan residu antibiotik dan bakteri resisten di sumber air yang terbatas, sehingga memperkuat transmisi AMR.

Secara global, kelimpahan ARG pada Salmonella meningkat sekitar 38 persen selama periode penelitian, dengan perubahan iklim menyumbang sekitar 10 persen dari kenaikan tersebut. Sebanyak 82 persen negara juga mengalami peningkatan kadar ARG, dengan lonjakan terbesar terjadi di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan, dan Afrika Sub-Sahara.

Ke depan, para peneliti memproyeksikan kadar ARG pada Salmonella akan terus meningkat hingga tahun 2100. Namun, jika negara-negara berhasil memenuhi target emisi rendah dan memperkuat pengelolaan penggunaan antibiotik, tingkat ARG diperkirakan dapat ditekan hingga 24 persen lebih rendah dibandingkan skenario emisi tertinggi.

“Temuan ini menyoroti pentingnya mitigasi perubahan iklim sebagai intervensi strategis untuk mengekang penyebaran ARG dan pada akhirnya memerangi tantangan global resistensi antibiotik,” tulis para peneliti.

Mereka menambahkan bahwa upaya mengatasi perubahan iklim, disertai pengelolaan antimikroba yang kuat, menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dan efektivitas terapi antibiotik di masa depan.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.