Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Produksi Industri, Penguatan Rantai Pasok Lokal Tak Bisa Ditunda
📅 Kamis, 21 Mei 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiPercepatan substitusi impor bahan baku lokal menjadi semakin mendesak di tengah pelemahan rupiah yang menekan biaya produksi industri, sehingga penguatan rantai pasok domestik dinilai penting untuk menjaga daya saing industri nasional.
JAKARTA – Upaya mempercepat substitusi impor bahan baku lokal dinilai semakin mendesak di tengah pelemahan rupiah yang terus menekan biaya produksi industri domestik. Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor membuat sektor manufaktur rentan terhadap kenaikan biaya akibat depresiasi nilai tukar, sehingga berpotensi memicu inflasi dan menekan daya saing produk dalam negeri.
Pelemahan rupiah hingga lebih dari 5 persen sejak awal tahun menunjukkan tekanan eksternal masih kuat, mulai dari penguatan dolar AS hingga ketidakpastian global. Karenanya, penguatan rantai pasok domestik dan pengembangan industri bahan baku lokal menjadi strategi penting untuk mengurangi tekanan terhadap devisa sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional dalam jangka panjang.
Peneliti sekaligus founder Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi menilai pelemahan rupiah perlu disikapi hati-hati karena kondisi ekonomi global saat ini diibaratkan seperti kapal yang sedang menghadapi badai. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global seperti tekanan fiskal Amerika Serikat (AS), konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi, hingga dugaan devaluasi yuan oleh Tiongkok.
“Persoalan moneter sangat terkait dengan geopolitik dan geoekonomi. Tapi kita perlu melihat kondisi domestik,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hafidz menyoroti kerentanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor pangan dan bahan baku industri. Ketika dolar menguat, biaya impor komoditas seperti gandum, kedelai, jagung, dan daging meningkat sehingga berpotensi menekan neraca perdagangan dan memicu inflasi.
“Selain itu, pelemahan rupiah juga dinilai mengurangi daya tarik investasi asing karena nilai yield dan dividen ikut tergerus,” ujarnya.
Dia menambahkan, sektor ekspor sumber daya alam juga menghadapi tantangan regulasi seperti kewajiban parkir devisa, kenaikan pajak dan royalti, serta pembatasan produksi. Karena itu, Hafidz mendorong pemerintah melakukan deregulasi, mempercepat substitusi impor pangan, memperkuat inovasi bioteknologi, serta menjaga disiplin fiskal dan kredibilitas moneter.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Diversifikasi ekspor dan transaksi menggunakan mata uang mitra dagang penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS,” katanya.
Seperti diketahui, hingga Rabu (20/5), rupiah sepanjang tahun ini melemah 883 poin atau sekitar 5,26 persen dari awal tahun menjadi 17.654 rupiah per dollar AS. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah di level 16.500 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal menilai industri dapat mulai mencari dan bermitra dengan Pemasok lokal sebagai alternatif pengganti (substitusi) bahan baku impor untuk menghadapi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Peguatan Lokalitas
Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa menilai dorongan substitusi impor dengan bahan baku lokal merupakan langkah yang tepat untuk memperkuat ketahanan ekonomi, namun perlu didukung prinsip keswadayaan dan kebersamaan. Menurutnya, penguatan lokalitas dan kolektivitas menjadi kunci penting dalam menghadapi tekanan ekonomi dan potensi krisis.
Awan menjelaskan ketergantungan industri terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi sangat rentan meningkat ketika rupiah melemah, sehingga daya saing industri ikut tertekan. Karena itu, penguatan rantai pasok lokal dinilai menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana jangka panjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!