Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PBB Soroti Lambatnya Aksi Iklim

📅 Rabu, 20 Mei 2026, 01:00 WIB | Oleh:
PBB Soroti Lambatnya Aksi Iklim Doc: antara
Ket. Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell memperingatkan bahwa upaya global dalam menangani krisis iklim berjalan terlalu lambat

Tokyo - Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell memperingatkan bahwa upaya global dalam menangani krisis iklim masih berjalan terlalu lambat, sementara dampak kerusakan akibat perubahan iklim terjadi semakin cepat.

Dalam wawancara dengan Kyodo News pada Senin (18/5), Stiell mengakui dunia telah mencatat sejumlah kemajuan sejak disepakatinya Perjanjian Iklim Paris pada 2015. Namun, ia menegaskan dunia masih belum berada di jalur yang tepat untuk membatasi kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius dibanding era pra-industri.

“Jadi, kita benar-benar memiliki dua pilihan... Yang pertama adalah apakah kita memperkuat kerja sama iklim, atau apakah kita menderita,” kata Stiell.

Ia juga menyoroti krisis energi akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang dinilai berpotensi memperlambat transisi energi bersih karena banyak pemerintah masih memberikan subsidi pada bensin dan bahan bakar fosil.

Terkait penarikan diri AS dari sejumlah komitmen iklim internasional, Stiell mengatakan pintu kerja sama tetap terbuka dan menilai sektor swasta AS masih aktif dalam agenda perubahan iklim.

Sementara itu, laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkap dunia juga belum bergerak cukup cepat untuk mencapai Target Hutan Global 2030.

Dalam Global Forest Goals Report 2026 yang dirilis Senin (11/5), PBB mencatat hanya tujuh dari 26 target kehutanan global yang sejauh ini berhasil dicapai. Sebanyak 17 target masih berada di jalur parsial, sementara dua target lainnya dinilai meleset dari sasaran.

Laporan yang disusun berdasarkan laporan sukarela dari 48 negara itu menunjukkan luas hutan global menyusut lebih dari 40 juta hektare sepanjang 2015 hingga 2025. PBB juga menyoroti masih besarnya kekurangan pendanaan untuk pengelolaan hutan berkelanjutan.

Meski demikian, sejumlah negara dinilai mulai melakukan reformasi kebijakan, memperluas program restorasi hutan, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kerja sama internasional dalam perlindungan hutan.

Namun, PBB mengingatkan ancaman terhadap hutan dunia masih tinggi akibat deforestasi, perubahan iklim, kebakaran hutan, serangan hama, dan aktivitas ilegal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

27 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

53 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Luar Negeri
400 Sekolah Ditutup dan Ham...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.