Cara Unik Nelayan Berau Rawat Tradisi Sobat agar Tetap Hidup
Rabu, 20 Mei 2026, 17:55 WIBBERAU â Pelestarian atraksi wisata budaya menjadi langkah penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat daya tarik sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Tradisi, seni pertunjukan, hingga kearifan lokal tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi masyarakat apabila dikelola secara konsisten dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Di sisi lain, tantangan pelestarian budaya semakin besar di tengah arus modernisasi dan perubahan pola konsumsi wisatawan.
Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata agar atraksi budaya tidak sekadar menjadi tontonan musiman, melainkan tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus mampu menarik minat generasi muda dan wisatawan.
Kelompok nelayan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur hingga kini terus memelihara tradisi âsobatâ atau tradisi menangkap ikan menggunakan pukat, sehingga kegiatan ini bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan keluarga, tapi sekaligus menjadi atraksi wisata budaya.
"Aktivitas memukat ikan yang masih dilakukan secara tradisional ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi potensi wisata budaya dan wisata bahari yang menarik bagi wisatawan," ujar Wakil Bupati Berau, Gamalis di Tanjung Redeb, Rabu (20/5).
Bagi wisatawan, lanjutnya, pengalaman melihat langsung proses memukat ikan di tengah keindahan laut dan pasir putih di Pulau Derawan, menjadi daya tarik tersendiri yang tidak banyak dimiliki oleh daerah lain.
Untuk itu, ia memberi apresiasi dan mengajak warga agar tradisi seperti ini harus terus dijaga, karena selain menjadi mata pencaharian masyarakat, juga bisa menjadi atraksi wisata yang memperlihatkan kehidupan asli masyarakat pesisir Pulau Derawan.
Terlebih tradisi semacam ini tidak bisa dilakukan sepanjang tahun, karena biasanya dilakukan warga setempat mulai Maret sampai Oktober setiap tahun, menyesuaikan dengan kondisi iklim yang menyebabkan ikan tuna banyak mendekat ke Pulau Derawan.
Ia menilai sektor pariwisata dan perikanan di kawasan kepulauan Berau dapat berjalan beriringan. Kehidupan nelayan, budaya masyarakat Suku Bajau, hingga aktivitas melaut akan mampu memperkuat citra wisata Derawan yang selama ini dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya.
Berkat kekayaan budaya dan keindahan alam di Derawan, maka tingkat kunjungan wisata di pulau ini tergolong tinggi, yakni pada 2025 Pulau Derawan dikunjungi sebanyak 45.274 wisatawan, naik 32,5 persen ketimbang 2024 yang tercatat 34.160 orang.
Jumlah sebanyak 45.274 orang ini berasal dari wisatawan nusantara sebanyak 41.890 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 3.384 orang antara lain dari Malaysia, Singapura, dan beberapa negara di Eropa.
Pekan lalu, saat Gamalis ikut memukat ikan tuna di kawasan Gusung Sanggalau, Pulau Derawan, ia juga berpesan ke masyarakat untuk menjaga ekosistem laut saat menangkap ikan, tujuannya adalah agar hasil tangkapan nelayan dan potensi wisata bahari tetap berkelanjutan.
- Wisata
- atraksi budaya
- Berau
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Personel TNI di Lebanon Kembali Mendapat Serangan, Tiga Terluka
-
Anggota Komisi VI Minta Pensiunan BUMN Tidak Boleh Kehilangan Akses Layanan Kesehatan
-
Festive Raya Fashion Show 2026, Upaya Pemkot Makassar Kuatkan Ekraf Angkat Potensi UMKM Daerah
-
Menag: Indonesia Jadi Negara Pertama Bangun Kampung Haji
-
Pendaftar Nikah di Sulsel Setelah Lebaran Mencapai Ratusan Pasangan
-
Bea Cukai Labuan Bajo Musnahkan Rokok Ilegal Hasil dari 55 Penindakan
-
Sentani International Airport Diyakini Naikkan PAD Jayapura
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.