Terapi Senolitik Harapan Baru Lawan Sel Zombie Penyebab Kanker dan Penuaan
📅 Selasa, 19 Mei 2026, 07:15 WIB | Oleh: Haryo BronoSEL ZOMBIE, yang dikenal dalam istilah ilmiah sebagai senescent cells, selama ini menjadi perhatian besar para peneliti karena sifatnya yang unik sekaligus berbahaya. Sel-sel ini tidak lagi membelah seperti sel normal maupun sel kanker aktif, tetapi tetap bertahan hidup di dalam tubuh dan terus memicu kerusakan biologis.
Penelitian terbaru yang dipimpin ilmuwan dari MRC Laboratory of Medical Sciences bersama Imperial College London menemukan bahwa sel-sel tersebut ternyata sangat bergantung pada protein pelindung bernama GPX4 agar dapat terus bertahan hidup. Ketika protein tersebut diblokir menggunakan senyawa obat eksperimental, sel zombie kehilangan mekanisme perlindungannya dan akhirnya mati melalui proses biologis yang disebut ferroptosis.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Cell Biology dan langsung menarik perhatian komunitas medis internasional. Mereka menganggap temuan itu dapat menjadi pendekatan baru dalam terapi kanker.
Sel yang Tidak Mati
Dalam kondisi normal, tubuh manusia secara alami mengganti sel-sel yang rusak atau menua melalui proses kematian sel terprogram. Namun pada kondisi tertentu, sebagian sel justru memasuki fase senescence, yakni keadaan ketika sel berhenti membelah tetapi tidak benar-benar mati.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena tidak aktif berkembang, sel-sel ini sempat dianggap sebagai mekanisme perlindungan tubuh terhadap kanker. Dengan menghentikan pembelahan sel yang rusak, tubuh dinilai berhasil mencegah pertumbuhan tumor yang lebih besar.
Selama bertahun-tahun, banyak terapi kanker bahkan memanfaatkan mekanisme ini. Kemoterapi misalnya, bekerja dengan memaksa sel kanker berhenti berkembang dan memasuki fase senescence. Namun seiring berkembangnya penelitian, ilmuwan menemukan bahwa keberadaan sel zombie ternyata membawa konsekuensi serius.
Meski tidak berkembang biak, sel-sel tersebut tetap aktif secara biologis dan melepaskan berbagai molekul inflamasi serta zat kimia yang dapat memengaruhi jaringan di sekitarnya. Molekul-molekul ini diketahui mampu memicu peradangan kronis, mempercepat kerusakan jaringan, membantu penyebaran kanker, bahkan melemahkan respons imun tubuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam banyak kasus, sel senescent juga ditemukan menumpuk pada jaringan tubuh manusia seiring bertambahnya usia. Peneliti utama studi tersebut yaitu Mariantonietta D’Ambrosio, menjelaskan bahwa para ilmuwan kini melihat sisi lain dari proses senescence yang sebelumnya dianggap sepenuhnya bermanfaat.
Menurutnya, walaupun sel senescent mampu menghentikan proliferasi sel kanker, keberadaan mereka dalam jangka panjang justru menciptakan lingkungan biologis yang mendukung agresivitas tumor. “Sel-sel ini mengeluarkan banyak faktor yang memengaruhi sel di sekitarnya dan dapat mendorong metastasis serta perekrutan bagian buruk dari sistem imun,” jelasnya dikutip dari Science Daily.
Karena itulah para peneliti mulai mencari terapi senolitik, jenis terapi medis mutakhir yang dirancang khusus untuk mencari dan menghancurkan sel-sel tua yang rusak di dalam tubuh. Sel-sel tua ini dikenal dengan istilah sel senesens (senescent cells) atau sering dijuluki sebagai “sel zombie”.
Menyaring 10.000 Senyawa untuk Mencari Obat
Untuk menemukan terapi yang tepat, para peneliti melakukan proses penyaringan besar-besaran terhadap sekitar 10.000 senyawa kimia berbeda. Penelitian dilakukan bersama tim kimia medis dari Imperial College London dengan fokus pada kelompok molekul yang dikenal sebagai covalent compounds.
Berbeda dari obat konvensional, senyawa jenis ini mampu menempel secara permanen pada protein target di dalam sel. Pendekatan tersebut memungkinkan ilmuwan menyerang protein yang selama ini sulit dijangkau oleh terapi biasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!