Pesawat Luar Angkasa Uni Eropa-Tiongkok Lepas Landas untuk Misi Mengungkap Badai Matahari
📅 Selasa, 19 Mei 2026, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKOUROU – Sebuah pesawat ruang angkasa gabungan Eropa-Tiongkok diluncurkan ke orbit pada hari Selasa (19/5) untuk menyelidiki apa yang terjadi ketika angin ekstrem dan ledakan plasma raksasa yang keluar dari Matahari menghantam perisai magnetik Bumi.
Badai matahari yang sangat dahsyat dapat merusak satelit, mengancam para astronot, dan menciptakan aurora yang mempesona di langit yang dikenal sebagai cahaya utara atau selatan.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang cuaca antariksa yang masih kurang dipahami ini, pesawat ruang angkasa SMILE yang berukuran sebesar mobil van ditugaskan untuk melakukan pengamatan sinar-X pertama kalinya terhadap medan magnet Bumi.
Pesawat ruang angkasa tersebut berhasil lepas landas menggunakan roket Vega-C pada pukul 03.52 GMT atau pukul 10.52 WIB hari Selasa (19/5) dari pusat peluncuran antariksa Eropa di Kourou, Guyana Prancis, di pantai timur laut Amerika Selatan.
Lima puluh lima menit kemudian, SMILE terlepas pada ketinggian 700 kilometer (435 mil) untuk melanjutkan perjalanannya menuju orbit yang sangat elips ribuan kilometer di atas permukaan planet kita.
Sebaiknya Anda baca juga:
SMILE akan berada pada ketinggian 5.000 kilometer saat terbang di atas Kutub Selatan, sehingga dapat mengirimkan data ke stasiun penelitian Bernardo O'Higgins di Antartika.
Namun, wahana antariksa tersebut akan berada 121.000 kilometer di atas Bumi ketika melintas di atas Kutub Utara -- sebuah orbit yang menurut Badan Antariksa Eropa (ESA) akan memungkinkan misi tersebut untuk "mengamati aurora borealis tanpa henti selama 45 jam berturut-turut untuk pertama kalinya".
SMILE -- atau Solar Wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer -- adalah misi bersama antara Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS).
Sebaiknya Anda baca juga:
Proyek ini akan mengungkap bagaimana Bumi merespons aliran partikel dan semburan radiasi dari Matahari, menggunakan kamera sinar-X untuk melakukan pengamatan sinar-X pertama di dunia terhadap perisai magnetik Bumi, dan kamera ultraviolet untuk mengamati aurora borealis yang dihasilkan tanpa henti selama 45 jam berturut-turut.
Aurora yang Mempesona
Angin surya adalah aliran partikel bermuatan yang terlontar dari Matahari.
Terkadang angin ini berubah menjadi badai besar akibat letusan plasma masif yang disebut pelepasan massa koronal. Meluncur dengan kecepatan sekitar dua juta kilometer per jam, ledakan dahsyat ini membutuhkan waktu satu atau dua hari untuk mencapai Bumi.
Saat tiba, medan magnet Bumi bertindak sebagai perisai, membelokkan sebagian besar partikel bermuatan tersebut.
Namun, selama peristiwa yang sangat intens, beberapa partikel dapat menembus atmosfer kita, yang berpotensi merusak jaringan listrik atau jaringan komunikasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!