Industri Tertekan Akibat Rupiah Melemah
📅 Selasa, 19 Mei 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiKenaikan biaya produksi memaksa pelaku usaha melakukan efisiensi, mulai dari mengurangi kapasitas produksi hingga menekan biaya operasional.
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dinilai mulai menekan berbagai sektor industri di Indonesia, terutama industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Para ekonom pun meminta pemerintah dan pelaku usaha segera menyiapkan langkah antisipasi agar tekanan ekonomi tidak berdampak lebih luas terhadap tenaga kerja dan daya beli masyarakat.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (18/5), melemah menjadi 17.668 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 17.597 rupiah per dollar AS. Sementara kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) juga turun ke level 17.666 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 17.496 rupiah per dollar AS.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak pada impor bahan baku di sektor elektronik, otomotif, pertanian hingga farmasi.
“Jadi saya kira ke depan risiko PHK, tenaga kerja terutama di industri-industri manufaktur ini harus segera diantisipasi, dimitigasi dengan berbagai kebijakan,” kata Bhima, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Senin (18/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, tekanan kurs membuat banyak pelaku industri mulai melakukan efisiensi, seperti mengecilkan ukuran produk, menurunkan kapasitas produksi, hingga menekan biaya operasional agar harga barang tidak melonjak tajam di tingkat konsumen.
“Tujuannya adalah agar tidak ada shock harga yang berlebihan kepada konsumen, jadi bisa menjaga margin. Tapi pertanyaannya sampai berapa lama karena kalau rupiahnya terus persisten melemah, banyak pelaku usaha itu pun juga akan kesulitan melakukan penyesuaian harga,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda meminta pemerintah fokus menjaga stabilitas rupiah dan daya beli masyarakat melalui kombinasi kebijakan moneter dan fiskal.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Yang pasti penguatan rupiah menjadi prioritas. Sektor moneter harus pertimbangkan betul soal kenaikan BI-rate. Sektor fiskal harus ada realokasi anggaran untuk menyelamatkan daya beli masyarakat,” ujar Huda.
Kepercayaan Pasar
Di sisi lain, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai BI perlu mengambil langkah lebih hawkish (agresif) dan antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah serta kepercayaan pasar.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri,” ujar Fakhrul.
Ia menilai BI perlu kembali menerapkan pendekatan stabilisasi klasik seperti saat krisis eksternal 2018 melalui langkah “pre-emptive, front loading, and ahead the curve”, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.
“Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!