Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

IDC: E-commerce Asia Tenggara Tumbuh Pesat, UMKM Jadi Motor Utama

📅 Jumat, 15 Mei 2026, 23:38 WIB | Oleh:
IDC: E-commerce Asia Tenggara Tumbuh Pesat, UMKM Jadi Motor Utama Doc: IDC
Ket. Laporan riset IDC bertajuk How Southeast Asia Buys and Pays 2026: Unlocking SMEs’ Potential. 2C2P by Antom dan IDC memproyeksikan pasar e-commerce Asia Tenggara tumbuh 85,4 persen hingga 2029 dengan UMKM dan pembayaran digital sebagai pendorong utama.

JAKARTA — Pasar e-commerce Asia Tenggara diproyeksikan menjadi yang tumbuh tercepat kedua di dunia pada periode 2024–2029 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 13,2 persen. Pertumbuhan tersebut hanya berada satu tingkat di bawah India.

Proyeksi tersebut terungkap dalam studi terbaru firma market intelligence IDC bertajuk How Southeast Asia Buys and Pays 2026: Unlocking SMEs’ Potential yang diinisiasi oleh 2C2P by Antom.

Studi itu memperkirakan nilai pasar e-commerce Asia Tenggara akan meningkat 85,4 persen hingga mencapai US$289,8 miliar pada 2029. Pertumbuhan tersebut didorong semakin luasnya penggunaan pembayaran digital, terutama dompet digital dan metode pembayaran lokal.

IDC memperkirakan pembayaran digital akan mencakup 97 persen dari total transaksi e-commerce Asia Tenggara pada 2029, naik dibandingkan 89 persen pada 2024. Pertumbuhan terbesar diprediksi berasal dari pembayaran domestik seperti real-time payments dan sistem pembayaran berbasis bank lokal, terutama di Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Nilai transaksi pembayaran domestik diproyeksikan meningkat 104 persen, dari US$45,1 miliar pada 2024 menjadi US$92 miliar pada 2029. Pada periode tersebut, metode pembayaran ini diperkirakan menjadi kontributor terbesar sektor pembayaran digital di Asia Tenggara dengan pangsa sekitar 32 persen, menggantikan dominasi kartu pembayaran.

Sementara itu, penggunaan dompet digital diperkirakan naik 107 persen, dari US$38,2 miliar pada 2024 menjadi US$79 miliar pada 2029. Pangsa pengguna dompet digital dalam pasar e-commerce juga diprediksi meningkat dari 24 persen menjadi 27 persen.

Metode pembayaran Buy Now Pay Later (BNPL) diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 174 persen, dari US$6,9 miliar pada 2024 menjadi US$18,9 miliar pada 2029.

Studi tersebut menilai tingginya pertumbuhan pembayaran digital tidak terlepas dari masih rendahnya kepemilikan kartu pembayaran di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data World Bank, sekitar 56 persen populasi di kawasan tersebut belum memiliki akses terhadap kartu pembayaran, sehingga solusi pembayaran digital menjadi alternatif utama bagi masyarakat unbanked maupun underbanked.

Selain tren pembayaran digital, studi IDC juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital kawasan. IDC memperkirakan kontribusi UMKM terhadap pasar e-commerce Asia Tenggara akan mencapai 58 persen pada 2029.

Survei terhadap 600 pelaku UMKM di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam menunjukkan sebanyak 66 persen UMKM kini telah berjualan secara online. Namun, tingkat kesiapan digital di kawasan masih belum merata.

Sekitar sepertiga responden UMKM masih bergantung pada transaksi tunai dalam operasional sehari-hari, termasuk di Singapura yang tergolong pasar digital maju. Berbagai tantangan masih dihadapi pelaku usaha, mulai dari kompleksitas integrasi sistem, kekhawatiran terhadap fraud, biaya operasional tinggi, hingga keterbatasan infrastruktur digital.

IDC mencatat tantangan yang dihadapi UMKM berbeda di tiap negara. Di Indonesia dan Filipina, hambatan utama berkaitan dengan infrastruktur dan konektivitas. Sementara di Singapura dan Vietnam, isu keamanan dan integrasi sistem menjadi perhatian utama. Adapun Malaysia dan Thailand menghadapi tekanan biaya dan regulasi.

Sebanyak 63 persen responden UMKM juga menyatakan sistem pembayaran yang digunakan saat ini membutuhkan pembaruan agar mampu mengikuti perkembangan tren pembayaran digital.

Meski baru 49 persen UMKM yang telah menjalankan bisnis lintas negara, sekitar tiga dari empat responden mengaku berencana melakukan ekspansi internasional dalam dua tahun mendatang. Ambisi tersebut dinilai paling kuat terlihat di Indonesia dan Thailand.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pembangunan monumen galodo Sumatera Barat

46 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pembangunan monumen galodo ...
Ekonomi
Komoditas ekonomi kreatif n...
Megapolitan
Bazar urban farming Jakarta...
Daerah
Lomba barista pelajar di Ko...
Luar Negeri
Gempa di Gunung Fuji, Sepul...
Daerah
Pemanfaatan air tanah untuk...
Malam Puncak HUT Jakarta 2026: Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus Bundaran HI

Malam Puncak HUT Jakarta 2026: Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus Bundaran HI

26 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.