Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BI Sudah Tidak Kuat Tahan Penjualan Aset Berbasis Rupiah

📅 Jumat, 15 Mei 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
BI Sudah Tidak Kuat Tahan Penjualan Aset Berbasis Rupiah Doc: istimewa

Stabilitas Moneter - Pemerintah Membiayai Defisit dengan Ekspansi Moneter Terselubung

Pemerintah harus mengurangi pembiayaan utang yang terlalu agresif agar BI tidak terus menjadi mesin penyelamat fiskal.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah akhirnya menuai dampak kebijakan burden sharing (berbagi beban) yang mulai dilakukan pada 2020 sebagai respon atas krisis karena pandemi Covid-19 kala itu.

Akibat dari kebijakan tersebut, Pemerintah terus mencetak utang di atas kertas dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tidak pernah dimiliki.

Ketika itu dilepas di pasar sekunder, maka Bank Indonesia (BI) mau tidak mau harus membeli (standby buyer) jika tidak terserap sepenuhnya oleh para pelaku pasar.

Data menunjukkan, otoritas moneter itu hingga 15 Desember 2025 sudah membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 327,45 triliun rupiah.

Sedangkan pembelian BI per Maret 2026 dilaporkan mencapai 86,16 triliun rupiah dan Mei 2026 sudah melonjak 160 triliun rupiah.

Secara keseluruhan, porsi kepemilikan BI dari 2025 hingga 21 Maret 2025 tercatat 1.607,9 triliun rupiah, setara dengan 25,79 persen dari total SBN yang dapat diperdagangkan.

Sedangkan, per Mei 2026, bank sentral sudah memegang SBN sebesar 2.150 triliun rupiah.

Pengamat Ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko menilai meningkatnya pembelian SBN oleh BI menunjukkan tekanan di pasar keuangan domestik sudah semakin berat, terutama terhadap asetaset berbasis rupiah.

Kondisi tersebut katanya dapat dibaca sebagai sinyal bahwa pasar tidak lagi sekuat sebelumnya dalam menyerap utang pemerintah di pasar sekunder.

“Fenomena ini menunjukkan BI mulai berada dalam posisi harus menjaga pasar SBN agar tidak mengalami tekanan lebih dalam.

Ketika minat pasar melemah, BI pada akhirnya menjadi penyerap terakhir,” kata Aditya di Yogyakarta, Kamis (14/5).

Kondisi tersebut jelasnya tidak terlepas dari kebijakan burden sharing yang dijalankan pemerintah dan BI sejak masa pandemi.

Like, Share, Comment:

Komentar (1)

Layanan Dana
Layanan Dana
16 May 2026, 22:54 WIB.

Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam

Balas
Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Danantara Borong Saham Burs...
Ekonomi
BI Tangkap Sinyal Ekspansi ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.